Minggu, 17 Januari 2010

PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN DALAM TINJAUAN PRIBADI EXCELLENT

A. Pengertian Pribadi Excellent (Studi Kecerdasan)
Kata excellent dalam kamus Inggris Indonesia mempunyai arti unggul. Sesuai dengan arti harfiahnya, excellent mengisyaratkan adanya watak dan ciri-ciri keunggulan yang dimiliki oleh seseorang. Orang dapat dikatakan excellent jika ia mampunyai ciri, watak, dan karakter pribadi unggul, hebat, dan cerdas.
Unggul berbanding lurus dengan prestasi. Seseorang menjadi pribadi unggul karena dia menghasilkan prestasi-prestasi dalam hidupnya. Prestasi itu kita bisa petakan dalam format 3K (Q), yaitu kecepatan (quick), kualitas (quality), dan kuantitas (quantity).[1] Ketiga format ini merupakan gambaran dari pribadi unggul, yaitu mampu bekerja dengan cepat dan menghasilkan kualitas yang berkuantitas dengan baik. Kecepatan di sini adalah usaha seseorang dalam melaksanakan pekerjaan untuk mencapai tujuan tertentu dengan akseleratif dan cermat. Kemudian, kualitas diasumsikan sebagai hasil dari usaha seseorang yang dapat dianggap bermutu oleh orang lain dan dapat diuji secara empiris.
Sedangkan kuantitas dianggap sebagai nominal jumlah hasil yang diperoleh orang setelah berusaha mencapai sesuatu. Dari ketiga pengertian sempit format watak pribadi unggul di atas, dapat dikatakan bahwa pribadi unggul adalah individu yang mampu menggabungkan ketiga peta tersebut secara integral. Karena, ketiga format tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi. Orang yang mampu bekerja cepat, namun tidak memperoleh hasil bermutu dan berkuantitas, tidak bisa dianggap sebagai pribadi unggul. Begitu juga dengan orang yang bisa menghasilkan kualitas baik atas usahanya, namun mempunyai nilai yang sedikit secara umum dan ditempuh dengan proses yang lama juga tidak bisa termasuk dalam golongan pribadi excellent. Termasuk juga orang yang memperoleh hasil yang banyak, namun tidak bermutu dan diperoleh dengan usaha yang relatif lama, masih belum dikatakan sebagai pribadi excellent pula.
Ada juga beberapa pakar yang menyebut bahwa pribadi excellent adalah mereka yang mampu menfungsikan seluruh kecerdasan dalam diri. Dalam ranah psikologi, kecerdasan seseorang tidak hanya mencakup tiga komponen kecerdasan umum (yaitu intelektual, emosional, dan spiritual), tapi juga diperinci beberapa bagian kecerdasan yang saling terpadu. Salah satu pakar yang merinci teori kecerdasan tersebut dengan jenis yang berbeda adalah Dr. Howard Gardner pada tahun 1983.[2] Kecerdasan-kecerdasan tersebut antara lain adalah:
Linguistic intelligence (“word smart”)
Logical-mathematical intelligence (“number/reasoning smart”)
Spatial intelligence (“picture smart”)
Bodily-kinesthetic intelligence (“body smart”)
Musical intelligence (“music smart”)
Interpersonal intelligence (“people smart”)
Intrapersonal intelligence (“self smart”)
Naturalist intelligence (“nature smart”) (net, 16)
Lingustic intelligence (authors). Kecerdasan linguistik atau kecerdasan verbal ini merupakan kemampuan seseorang dalam mengucapkan perkataan secara berkesan, baik secara lisan ataupun tulisan. Kecerdasan ini memuat kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara tertulis ataupun lisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya. Pramukawan-pramukawati yang mempunyai kecerdasan linguistik biasanya selalu suka berorasi dan beretorika, menyampaikan pendapat, argumen, dan bertanya kepada orang lain. Kegiatan-kegiatan konkrit seperti pidato, presentasi, diskusi, orasi, debat, baca dan menulis puisi adalah hal yang paling disukai oleh pramukawan-pramukawati berkemampuan linguistik ini. Pramukawan-pramukawati yang mempunyai kecerdasan lingustik tinggi biasanya akan menggeluti profesi sebagai sastrawan, penulis, penyajak, penceramah, pensyarah dalam bidang sastra (kritikus sastra). Hal ini disebabkan semua profesi tersebut selalu menjadikan kemampuan linguistik sebagai parameter kecerdasan utama. Salah satu contoh figur orang berkemampuan linguistik unggul adalah H.B Jassin, William Shakespeare, Rene Blanco, Sir Arthur Conan Doyle, dan lainnya. Mereka adalah serangkaian tokoh yang banyak bergelut dalam dunia linguistik tersebut.
Logical-mathematical intelligence (scientists). Kecerdasan matematik-logika memuat kemampuan seseorang dalam berpikir secara induktif dan deduktif, kemampuan berpikir menurut aturan dan logika, memahami dan menganalisa pola angka-angka serta memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir. Pramukawan-pramukawati dengan kecerdasan matematik-logika tinggi cenderung menyenangi kegiatan menganalisa dan mempelajari sebab-akibat terjadinya sesuatu. Ia menyenangi berpikir secara konseptual, yaitu misalnya menyusun hipotesis, mengadakan katagorisasi, dan klasifikasi terhadap apa yang dihadapinya. Pramukawan-pramukawati semacam ini cenderung menyukai aktifitas berhitung dan memiliki kecepatan tinggi dalam menyelesaikan problem matematika; penggunaan simbol, rumus, urutan nomor, pola abstrak, perkaitan sebab dan akibat (logik), penyelesaian masalah, penpembinasan grafik, dan pengiraan. Apabila kurang dipahami, maka mereka akan cenderung berusaha untuk bertanya dan mencari jawaban atas hal yang kurang dipahaminya tersebut. Pramukawan-pramukawati ini juga sangat menyukai berbagai permainan yang banyak melibatkan kegiatan berpikir aktif, seperti: catur, bermain teka-teki, dan sebagainya. Pramukawan-pramukawati yang berkemampuan matematik-logika ini biasanya akan menjadi ahli matematika, saintis, dan akuntan. Beberapa tokoh yang mempunyai kecerdasan ini adalah Carl Friedrich Gauss, Al-Khawarizmi, dan Isaac Newton.
Spatial intelligence (architects). Kemampuan visual spasial memuat kemampuan seseorang untuk memahami secara lebih mendalam hubungan antara obyek dan ruang. Pramukawan-pramukawati ini memiliki kemampuan, misalnya untuk menciptakan imajinasi bentuk dalam pikirannya, atau kemampuan untuk menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi seperti dijumpai pada orang dewasa yang menjadi pemahat patung atau arsitek bangunan. Kemampuan membayangkan suatu bentuk nyata dan kemudian memecahkan berbagai masalah sehubungan dengan kemampuan ini adalah hal yang menonjol pada jenis kecerdasan visual spasial ini. Pramukawan-pramukawati demikian akan unggul dalam permainan mencari jejak pada suatu kegiatan di kepramukaan, misalnya. Pramukawan-pramukawati yang mempunyai kemampuan ini biasanya sering berprofesi sebagai pelukis, pengukir, dan arsitek. Beberapa tokoh unggul dalam kecerdasan spasial tersebut adalah seperti Hijjaz Kasturi, Minoru Yamasaki, Alexander Thomson Alexander, Pablo Picasso, dan Leonardo Da Vinci.
Bodily-kinesthetic intelligence (dancers). Keceradasan kinestetik memuat kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah. Hal ini dapat dijumpai pada pramukawan-pramukawati-pramukawan-pramukawati yang unggul pada salah satu cabang olah raga, seperti misalnya bulu tangkis, sepak bola, tenis, berenang, dan sebagainya. Atau bisa pula tampil pada anak-anak yang pandai menari, terampil bermain akrobat atau unggul dalam bermain sulap. Pramukawan-pramukawati yang mempunyai kecerdasan kinestetik cenderung berprofesi sebagai atlet, pemain sepak bola, peninju, penari, pelakon, tentara, polisi, dan sebagainya. Beberapa tokoh yang unggul dalam kecerdasan ini adalah antara lain Nicole David, Michael Jordan, David Beckham, Shazlin Zulkifli, Muhammad Ali, Shah Rukh Khan, Rosyam Noor, Jackie Chan, dan lain-lain.
Musical intelligence (musicians). Kecerdasan musikal memuat kemampuan seseorang untuk peka terhadap suara-suara non-verbal yang berada di sekelilingnya. Termasuk dalam hal ini adalah nada dan irama. Pramukawan-pramukawati-pramukawan-pramukawati jenis ini cenderung senang sekali mendengarkan nada dan irama yang indah, apakah itu melalui senandung yang dilagukannya sendiri, mendengarkan kaset/radio, pertunjukan orkestra atau alat musik yang dimainkannya sendiri. Mereka juga lebih mudah mengingat sesuatu dan mengekspresikan gagasan-gagasan apabila dikaitkan dengan musik. Pramukawan-pramukawati yang mempunyai kecerdasan musik tinggi biasanya akan menjadi seorang komposer, penyanyi, pengubah lagu, atau pemain musik. Sedangkan tokoh-tokoh yang unggul dalam kecerdasan ini antara lain Siti Nurhaliza, Kitaro, Bethooven, Mozart, Adnan Abu Hasan, Ajai, M. Nasir, Yasin, Ramlee, Misha Omar, dan lainnya.
Interpersonal intelligence (entrepreneur). Kecerdasan inter-personal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain, sehingga mudah dalam bersosialisasi dengan lingkungan di sekelilingnya. Kecerdasan semacam ini juga sering disebut sebagai kecerdasan sosial di mana selalin seorang pramukawan-pramukawati mampu menjalin persahabatan yang akrab dengan teman-temannya juga termasuk kemampuan seperti memimpin, mengorganisasi, menangani perselisihan antar teman, memperoleh simpati dari anak-anak yang lain, dan sebagainya. Pramukawan-pramukawati berkemampuan dan mempunyai kecerdasan inter-personal ini biasanya akan menjadi ahli politik (politikus), peniaga, pengacara, dan usahawan. Beberapa tokoh yang unggul dalam kecerdasan tersebut adalah Donald Trump, David Letterman, Aznil Hj. Nawawi.
Entrepreneur sebenarnya adalah istilah inggris yang berarti pengusaha atau usahawan (enterprenir).[3] Seorang dapat dikatakan sebagai pengusaha jika ia mempunyai beberapa bidang garapan usaha. Obyek usaha tersebut sangat relatif, dan tergantung pada tujuan dan orientasi dasar pemilik usaha. Di mana, dengan usaha tersebut, segala tujuan yang diinginkan dapat dicapai, terutama untuk mencapai kesejahteraan dan keberlangsungan investasi modal usahanya.
Entrepreneur adalah mereka yang mengharapkan adanya pendapatan yang cukup untuk menjamin kehidupan yang baik, setidaknya memberikan kemungkinan dengan usaha keras, mencapai tingkat kemakmuran yang layak.[4]
Menurut Bo Peabody dalam bukunya “Luck or Smart? Secret to an Entrepreneurial Life (terjemahan Indonesia “Cara Cerdas Mengembangkan Kewirausahaan”)”,[5] entrepreneur adalah mereka yang berpredikat sebagai pelajar B. Tak satupun hal yang mereka lakukan dengan baik. Tetapi ada banyak hal yang mereka lakukan dengan cukup baik. Sehingga, seorang entrepreneur adalah mereka yang ingin cepat mendapatkan hasil. Kemampuan untuk fokus dan sabar bukan menjadi tipikal para entrepreneur, karena dengan tahu sedikit akan banyak hal akan membuat mereka cepat bosan.
Schumpeter, sebagaimana dikutip Bygrave (1996) dalam Entrepreneurship, mengatakan bahwa seorang wirausahawan adalah individu yang memperoleh peluang dan menciptakan organisasi untuk mengejarnya (mengejar peluang).[6]
Drucker (1996), mengatakan bahwa entrepreneur selalu mencari perubahan, menanggapinya dan memanfaatkan sebagai peluang.[7]
Maka dari itu, entreprenur adalah pribadi yang mencintai perubahan, karena dalam perubahan tersebut peluang selalu ada.[8]
Ben G. Van der Kaa juga mengatakan bahwa entrepreneur (pengusaha) adalah orang yang mengorganisir dan memimpin perusahaan yang dikelolanya dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dari hasil usahanya.[9] Para pengusaha adalah orang yang berpandangan jauh dan mampu mengevaluasi kegiatan usaha, mampu mengumpulkan sumber-sumber yang diperlukan, dan suka berinisiatif, serta hal-hal yang menuju sukses.
Pada awalnya, seorang (calon) pengusaha telah memikirkan dan berikhtiyar untuk memilih badan usaha yang dapat kompatibel dan kondisional sesuai dengan daerah yang ditempati. Karena jenis usaha yang berkembang di suatu daerah belum tentu pula berkembang dengan baik di daerah lain.
Selain kondisi dan situasi yang tepat, kepemilikan modal juga menjadi hal yang penting dimiliki oleh calon pengusaha. Pada saat inilah, pengusaha sering disebut sebagai investor (penanam modal). Fakta historis ini kemudian membutuhkan beberapa pengertian sebagai landasan definisi entrepreneur yang lebih komprehensif.
Selanjutnya, melalui pendekatan sosial yang melihat istilah entrepreneur dalam dinamika kehidupan perekonomian masyarakat (Indonesia), sebagaimana yang akan penulis sajikan disini
Intrapersonal intelligence (therapists). Kecerdasan intra-personal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Ia cenderung mampu untuk mengenali berbagai kekuatan maupun kelemaham yang ada pada dirinya sendiri. Pramukawan-pramukawati-pramukawan-pramukawati semacam ini senang melakukan intropeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya, kemudian mencoba untuk memperbaiki diri. Beberapa di antaranya cenderung menyukai kesunyian dan kesendirian, merenung, dan berdialog dengan dirinya sendiri. Pramukawan-pramukawati-pramukawan-pramukawati ini pada akhirnya sering menjalani profesinya sebagai pengarang, penyajak, ahli filsafat, ahli motivasi, pakar konseling, atau ahli psikologi. Beberapa tokoh berpengaruh yang memiliki kecerdasan intrapersonal ini antara lain, M. Faaizi, D. Zawawi Imran, Jacques Derrida, H.M. Tuah Iskandar, Dr. Fadzilah Kamsah, Albert Ellis, William Glasser, Howard Gardner, dan Jean Piaget.
Naturalist intelligence (naturalists). Keceradasan naturalis adalah kemampuan seseorang untuk peka terhadap lingkungan alam. Misalnya, senang berada di lingkungan alam yang terbuka seperti pantai, gunung, cagar alam, hutan, dan sebagainya. Pramukawan-pramukawati dengan kecerdasan seperti ini cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, jenis-jenis lapiran tanah, aneka macam flora dan fauna, benda-benda di angkasa, dan sebagainya. Pramukawan-pramukawati yang mempunyai kecerdasan naturalis yang tinggi biasanya akan berprofesi sebagai ahli botani, petani, ahli biologi, perancang bandar, atau seorang geologis. Beberapa tokoh dan ilmuan yang bergelut dalam dunia kecerdasan naturalis ini adalah Charles Darwin, Edward D. Cope, Luis Agassiz, David Starr Jordan.
Dengan demikian, pribadi excellent adalah individu yang memiliki minimal salah kecerdasan berganda ini. Jika diteliti lebih jauh, kecerdasan-kecerdasan tersebut ternyata selalu menyangkut minat dan kecenderungan seseorang sejak kecil. Artinya, keunggulan diri seseorang lebih banyak dilatarbelakangi oleh faktor minat, potensi, dan bakat. Ketiga hal ini mempunyai implikasi signifikan terhadap pembentukan manusia untuk menjadi unggul. Bahkan, beberapa orang yang unggul dalam dua atau bahkan tiga kecerdasan di atas. Artinya, orang unggul semacam ini seringkali disebut sebagai orang yang telenta.
Di sisi lain, pribadi excellent juga tidak menjadikan bakat dan potensi sebagai satu-satunya penentu kesuksesan dia di masa depan. Ciri pribadi excellent adalah kepercayaan terhadap kesuksesan seseorang selalu tergantung pada tingkat dan intensitas usaha dia untuk menggapai masa depan gemilang. Dengan demikian, pribadi excellent selalu beranggapan bahwa potensi dan bakat hanya bagian terkecil yang mempengaruhi kehidupan dia di masa depan. Potensi dan bakat akan bisa ditingkatkan, diasah, dan dikembangkan melalui usaha maksima dan tak kenal lelah.
Apa yang telah diungkapkan Gardner tentang kecerdasan ganda di atas merupakan refkeksi konkrit tentang pengertian pribadi excellent, yaitu individu yang mampu melejitkan seluruh atau salah satu kecerdasan yang dimiliki untuk menatap masa depan cerah dan menggapai tujuan yang diinginkan.

B. Usaha-Usaha Membentuk Pribadi Excellent dalam Kepramukaan
Secara sederhana, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seseorang untuk menjadi pribadi excellent. Meskipun pembahasan tentang definisi unggul telah diketahui, namun hal itu kurang memadai, karena definisi tersebut hanya sebatas teori yang tidak akan mampu dilaksanakan jika menafikan cara-cara dan usaha penerapannya di lapangan.
Oleh karena itu ada beberapa usaha untuk meningkatkan dan menumbuhkan karakter keunggulan diri seseorang, antara lain:[10]
1. Bersikap proaktif, bukan reaktif
Seorang pramukawan-pramukawati yang mempunyai gairah untuk menjadi pribadi unggul selayaknya menanamkan sikap proaktif. Artinya, sikap tersebut dapat ditumbuhkan dengan membangun rasa optimis dan pendirian dalam jiwa mereka. Sikap proaktif merupakan gambaran akan sikap seseorang yang mampu berdiri sendiri (mandiri) tanpa ada dorongan dari luar. Sikap proaktif hanya dapat tumbuh jika pramukawan-pramukawati mampu membangun dan mengembangkan diri sendiri (self-development) dengan motivasi diri (faktor internal) dan tidak atas pengaruh faktor eksternal (dari luar) diri mereka. Pramukawan-pramukawati yang mempunyai sikap proaktif biasanya dapat mengembangan kemampuan individunya secara konsisten. Perubahan lingkungan dan suasanya yang terjadi di luar diri pramukawan-pramukawati yang mempunyai sikap proaktif tidak akan berpengaruh dominan pada pengembangan dirinya. Hal ini disebabkan perkembangan diri mereka lebih disebabkan oleh faktor intern (dalam diri), bukan faktor ekstern. Sehingga, segala keputusan dan tindakan pramukawan-pramukawati selalu dipertimbangkan sesuai dengan kehendak diri dan kondisi diri pribadi terlebih dahulu, kemudian berusaha memperkaya dengan motivasi-motivasi dari luar diri mereka. Pramukawan-pramukawati pada gilirannya akan selalu aktif dalam mengerjakan sesuatu untuk mencapai target yang ingin dicapai. Pramukawan-pramukawati dalam hal ini juga akan mudah beradaptasi dengan masalah yang akan menimpa dan menghambat pada proses pengembangan diri. Mereka juga tidak akan mudah menyerah dan putus asa pada problem yang dihadapi (reaktif), apalagi mengambil keputusan tanpa pertimbangan-pertimbangan yang matang dan sistematis.
Untuk membentuk sikap proaktif ini, pramukawan-pramukawati harus memperhatikan beberapa hal berikut: pertama, kemampuan mengendalikan emosi dalam menghadapi dan menyelesaikan secara cermat dan tepat. Kedua, kemampuan mempertimbangkan segala keputusan berdasarkan pada pikiran-pikiran matang dan sistematis. Ketiga, kemampuan melaksanakan keputusan tersebut secara konsisten dan tepat sasaran.
Ketiga upaya ini pada gilirannya akan mampu membentuk sikap proaktif dalam diri pramukawan-pramukawati. Kemampuan dalam mengendalikan emosi menjadi salah satu tekanan penting dalam pembentukan sikap ini. Hal tersebut didasarkan pada asumsi pada sikap proaktif yang cenderung bersumber dari dalam diri (ego) pramukawan-pramukawati, dan bukan dari luar diri (eksternal) mereka. Untuk itu, pramukawan-pramukawati harus mampu mengukur dan mengetahui seberapa jauh tingkat kematangan dan pengendalian emosi mereka dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah secara arif dan bijak.
Setelah memahami ketahanan emosi secara utuh, pramukawan-pramukawati dituntut untuk mampu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi secara cermat dan tepat. Kemampuan ini hanya bisa dilakukan dengan upaya menganalisis kepekaan emosi mereka pada problem yang dihadapi serta peluang terwujudnya keberhasilan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
Usaha kedua ini kemudian akan mampu membentuk keputusan-keputusan solutif yang turut membantu dalam menyelaikan masalah secara cermat dan baik. Keputusan ini pada akhrinya juga menuntut mereka untuk konsisten melaksanakan dan mengupayakan keputusan itu sesuai dengan target dan sasaran yang dituju. Intinya, semua usaha tersebut di atas merupakan rincian pembentukan sikap proaktif yang harus dimiliki pramukawan-pramukawati untuk menjadi pribadi unggul dan prestatif.
2. Selalu berani mengambil tindakan atau resiko
Usaha kedua yang dilakukan oleh pramukawan-pramukawati dalam membentuk keunggulan diri adalah harus berani mengambil tindakan atau resiko. Ada empat karakteristik dalam upaya ini, yaitu adalah pertama, tidak menunggu kesempatan, tapi menciptakan kesempatan. Pramukawan-pramukawati yang ingin menjadi unggul harus mampu menciptakan kesempatan, dan bukan menunggu kesempatan. Kesempatan tersebut akan mampu diperoleh jika mereka mampu mencari ruang-ruang baru dalam setiap target yang akan dicapai, dan menjadikannya sebagai kesempatan terbesar sebagai modal dalam menggapai tujuan itu sendiri. Sebenarnya, dalam setiap proses mencapai tujuan yang dominan diwarnai dengan berbagai macam hambatan dan halangan, selalu ada kesempatan yang seringkali tidak mampu dilacak oleh pramukawan-pramukawati. Oleh karena itu, kemampuan pramukawan-pramukawati dalam menciptakan kesempatan justru akan mempengaruhi pada peluang untuk mencapai tujuan. Kesempatan tersebut dapat diwujudkan melalui solusi-solusi alternatif dalam proses pengembangan diri pramukawan-pramukawati. Usaha menciptakan kesempatan juga meniscayakan adanya upaya percepatan dalam diri pramukawan-pramukawati untuk selalu aktif dan cepat dalam memperoleh hasil yang maksimal. Seorang pramukawan-pramukawati yang mampu menciptakan kesempatan cenderung lebih akseleratif dalam mencapai tujuan dari pada pramukawan-pramukawati yang menunggu kesempatan. Mereka yang menunggu kesempatan adalah gambaran dari pramukawan-pramukawati yang tidak mempunyai gairah untuk membentuk diri menjadi unggul dan prestatif, dan biasanya selalu kalah dalam persaingan.
Kedua, tidak menimbulkan masalah, namun memecahkan masalah. Karakter kedua ini sebenarnya lebih erat kaitannya dengan sikap kedewasaan pramukawan-pramukawati. Artinya, pramukawan-pramukawati yang mampu menyelesaikan masalah dalam proses pengembangan dirinya dominan mampu menguasai seluruh medan permasalahan yang dihadapi. Sebaliknya, pramukawan-pramukawati yang justru menimbulkan masalah akan menghambat pada proses pencapaian tujuan. Karakter kedua ini juga menggambarkan kemampuan pramukawan-pramukawati untuk menganggap suatu proses sebagai hal yang niscaya dan harus dijalani. Pramukawan-pramukawati dalam konteks ini pada hakikatnya sudah mempunyai gambaran bahwa dalam usaha mencapai tujuan belajar, selalu terdapat masalah yang kompleks dan unpredictable. Namun, karena dengan sikap kedewasaan dan sikap optimis pramukawan-pramukawati dalam keberhasilan mencapai tujuan, maka mereka selalu siap untuk memecahkan setiap permasalah tersebut. Dan hal ini tidak terjadi bagi mereka (pramukawan-pramukawati) yang “menyerah sebelum berperang”. Pramukawan-pramukawati golongan ini biasanya justru menimbulkan masalah sebelum menjalani proses pengembangan diri.
Ketiga, tidak mencari alasan tapi mencari solusi. Pramukawan-pramukawati yang ingin menjadi unggul pada hakikatnya harus berupaya mencari solusi pada permasalahan-permasalahan yang sedang dan akan dihadapi. Pramukawan-pramukawati dalam hal ini dituntut untuk memaksimalkan seluruh potensi dan kemampuan individu untuk tetap bertahan menuju kesuksesan dan keunggulan diri. Masalah-masalah yang dihadapi selalu dicerna dengan pikiran dan hati yang jernih sehingga tercipta solusi tepat dan sistematis. Solusi tersebut kemudian diwujudkan sebagai sebentuk kesempatan alternatif dalam mencapai tujuan utamanya. Beda halnya dengan pramukawan-pramukawati yang hanya mencari alasan pada masalah-masalah tersebut. Pramukawan-pramukawati golongan ini biasanya lambat dalam bertindak dan berpikir. Yang ada hanya sebatas kritik dan alasan yang blank sehingga juga turut mempengaruhi pada proses pengembangan diri mereka sendiri.
Keempat, tidak didorong tapi mendorong. Dalam membentuk keunggulan diri, pramukawan-pramukawati juga harus mampu mendorong atau memotivasi diri, tanpa menunggu motivasi dari orang lain. Atau jika perlu, pramukawan-pramukawati harus mampu mencari motivasi diri. Seperti halnya dengan mengukur kemampuan dan potensi pribadi dengan tokoh-tokoh besar berpengaruh yang mempunyai kemampuan sesuai dengan potensi mereka.
3. Selalu mulai dengan sasaran (goal) dalam pikiran.
Upaya yang ketiga ini sesuai dengan teori penciptaan peta pikiran. Di mana, pramukawan-pramukawati yang berkeinginan untuk menjadi unggul harus mempunyai target dan tujuan masa depan. Membuat visualisasi hasil akhir juga menjadi salah satu strategi aplikatif dalam upaya tersebut. Visualisasi ini pada akhirnya akan menciptakan sistematisasi pikiran dan perasaan dalam diri pramukawan-pramukawati sebagai refleksi masa depan yang hendak dituju. Selain itu, sasaran (goal) yang diinginkan juga bisa berbentuk visi ke depan bagi pramukawan-pramukawati. Dalam hal ini, pramukawan-pramukawati menjadi seorang visioner yang mempunyai perencanaan dan pertimbangan yang matang dan tepat. Visi, tujuan, dan target masa depan merupakan gambaran goal bagi pramukawan-pramukawati yang harus diletakkan dalam pikiran dan jiwa mereka.
Visualisasi akan ketiga hasil akhir tersebut juga akan membuat pramukawan-pramukawati fokus pada proses pencapainnya. Artinya, visualisasi ini justru telah memetakan pikiran pramukawan-pramukawati secara sistematis dan terarah sesuai dengan target yang akan dicapai. Selain itu, visualisasi tersebut juga akan menjadikan pramukawan-pramukawati berkonsentrasi pada satu tujuan, target dan visi mereka. Dalam hal ini, pramukawan-pramukawati akan mampu bertahan dalam proses pengembangan diri walaupun harus menyelesaikan masalah yang akan dihadapi.
Penciptaan sasaran (goal) ini juga membantu pramukawan-pramukawati untuk tetap bertekad dalam mencapai tujuan mereka. Pembentukan sasaran berarti upaya pembentukan jalan atau proses panjang menuju target yang direncanakan. Sehingga, pramukawan-pramukawati secara tidak langsung telah mengetahui seberapa besar peluang, harapan, dan kegagalan akan tercapainya tujuan itu sendiri. Dalam hal ini, pramukawan-pramukawati sudah merasa siap untuk menjalani proses pengembangan diri sesuai dengan tahapan perencanaan sebelumnya.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam pembentukan sasaran ini antara lain: pertama, memahami kemampuan dan karakteristik individu sebagai persiapan proses pengembangan diri. Kemampuan dan karakteristik seseorang (pramukawan-pramukawati) tidak dapat dilacak secara utuh kecuali oleh diri mereka pribadi. Pramukawan-pramukawati yang lebih banyak mengetahui tentang kemampuan, potensi, dan karakteristik yang dimiliki dari pada orang lain. Untuk membentuk goal tersebut, pramukawan-pramukawati harus melaksanakan langkah ini terlebih dahulu sebagai persiapan realisasi pengembangan diri lebih lanjut.
Kedua, menentukan secara khusus visi yang akan dituju. Artinya, pramukawan-pramukawati diharapkan tidak hanya membuat sasaran atau gambaran tujuan secara umum, tapi justru harus membuat visi khusus yang sesuai dengan karakter dan potensi yang dimiliki mereka. Visi umum justru akan menghambat pada konsentrasi pramukawan-pramukawati dalam mencapai kesuksesan, karena terlalu banyak mempunyai rincian target-target umum itu sendiri. Bahkan, ironisnya pramukawan-pramukawati pada akhirnya akan menyerah (putus asa) untuk mencapai seluruh tujuan-tujuan tersebut secara keseluruhan.
Ketiga, membentuk komitmen dalam diri. Setelah membuat spesifikasi target pencapaian hasil belajar, pramukawan-pramukawati harus berusaha menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan komitemen dalam diri. Sikap ini berguna untuk mempercepat pencapaian target secara maksimal dan membantu ketahanan emosi pramukawan-pramukawati dalam menghadapi masalah. Komitemen tersebut tentunya juga merupakan komitmen masa depan. Artinya, pembentukan sikap komitmen dan tekad ini telah direncanakan sesuai dengan ketahanan emosi mereka dalam menghadapai masalah yang sedang dan akan dihadapinya.
Ketiga langkah tersebut di atas merupakan realisasi usaha dalam menciptakan sasaran (goal) yang selalu bersandar pada pertimbangan dan pikiran-pikiran yang matang untuk menjadi pribadi pramukawan-pramukawati yang unggul, great, dan excellent.
4. Mendahulukan hal-hal yang utama (first thing first)
Dalam usaha kali ini, pramukawan-pramukawati dianjurkan untuk merealisasikan hal-hal yang utama, penting, dan mendesak. Pramukawan-pramukawati harus meninggalkan hal-hal yang dirasa tidak perlu dan tidak penting dilaksanakan dalam proses pengembangan diri. Mendahulukan hal-hal yang utama menunjukkan bahwa pramukawan-pramukawati pada prinsipnya telah berpegangan pada proses percepatan diri dalam mencapai kesuksesan. Selain itu, usaha ini juga merefleksikan bahwa pramukawan-pramukawati sudah dewasa dan mampu membangun keputusan-keputusan masa depan sesuai dengan harapan masa kini. Sebenarnya usaha keempat ini tidak terlalu jauh berbeda dengan sebutan 3 M, yaitu memulai dari yang kecil, memulai dari diri sendiri, dan memulai sekarang. Hanya saja ketiga usaha ini lebih bersifat khusus, daripada usaha mendahulukan hal-hal yang utama. Hal ini disebabkan tujuan ketiganya (diri sendiri, dari yang kecil, dan dari sekarang) merupakan usaha-usaha utama yang harus dilakukan oleh pramukawan-pramukawati dalam proses pembentukan karakter keunggulan diri.
Mendahulukan hal-hal yang utama juga bisa berarti memprioritaskan pada pengembangan diri pribadi terlebih dahulu daripada individu orang lain. Pramukawan-pramukawati yang mempunyai gairah untuk menjadi unggul biasanya selalu memperhatikan keberadaan dan posis dirinya di tengah lingkungan sekitar. Hal ini dimaksudkan agar pramukawan-pramukawati dapat menciptakan nuansa kompetititf dan persaingan sehat antar teman-teman yang lain dalam proses pengembangan diri. Kultur persaingan dan kompetisi ini pada akhirnya menuntut mereka untuk terus meningkatkan kemampuan diri dalam mendahulukan hal-hal yang dianggap penting dan mengarah pada pencapaian tujuan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pramukawan-pramukawati dalam melihat pentingnya usaha tersebut di atas adalah: pertama, mengukur sejauhmana tindakan yang dilakukan dengan target yang akan dicapai. Pengukuran ini bisa berbentuk mendeteksi tindakan-tindakan masa depan dalam mencapai kesuksesan. Cita-cita yang sudah direncanakan sejak awal sejatinya harus diiringi dengan tindakan yang positif dan tepat sasaran. Tidak ada jalan alternatif lain bagi pramukawan-pramukawati, kecuali melacak tindakan apa saja yang harus dilakukan dengan pandangan masa depan, dalam proses pembentukan pribadi unggul ini.
Kedua, membandingkan tindakan satu dengan tindakan yang lain dengan tetap berdasar pada kemampuan individu pramukawan-pramukawati. Artinya, pramukawan-pramukawati tentu memiliki berbagai perencanaan tindakan untuk menuju tahap kesuksesan dalam target belajar dan pembelajaran. Namun, tindakan-tindakan tersebut tentunya harus dibandingkan satu dengan yang lain agar tidak terjadi inkonsistensi penerapan di lapangan. Perbandingan tersebut tentunya juga harus diimbangi dengan kemampuan yang dimiliki pramukawan-pramukawati.
Ketiga, menyelesaikan secara tuntas masing-masing tindakan tersebut secara simultan dan berkelanjutan. Pramukawan-pramukawati diharapkan tidak bersikap latah, berhasrat untuk melaksanakan semua tindakan dalam jangka waktu yang bersamaan. Hal ini justru akan membuat proses pengembangan diri dan pembentukan keunggulan diri dalam jiwa pramukawan-pramukawati tidak berjalan sesuai dengan cita-cita semula. Oleh karena itu, pramukawan-pramukawati harus mendahulukan tindakan yang paling penting dan menyelesaikannya secara tuntas untuk kemudian berpindah pada pemilihan dan pelaksanaan tindakan selanjutnya.
Ketiga usaha ini harus dilakukan dalam mengukur tingkat signifikansi tindakan yang akan dilakukan pramukawan-pramukawati dalam proses pengembangan diri. Tentunya, ketiga hal tersebut tidak berjalan sendiri. Semuanya mempunyai keterkaitan dan hubungan yang erat antar satu langkah dengan langkah lainnya.
5. Mampu untuk memulihkan vitalitas diri secara konsisten.
Vitalitas yang dimaksud di sini bukan semata-mata vitalitas jasmani, tapi juga vitalitas rohani. Keunggulan diri dapat diperoleh oleh pramukawan-pramukawati, jika mereka benar-benar memahmi tingkatan vitalitas dalam diri mereka, baik dalam hal fisik, emosional, dan spiritual. Ketiganya memiliki posisi signifikan dalam pembentukan watak keunggulan diri dalam jiwa pramukawan-pramukawati. Dalam masalah fisik, pramukawan-pramukawati tentu dituntut untuk menjaga stamina dan kesehatan tubuh setiap hari, utamanya dalam proses pengembangan diri mereka. Stamina dan kesehatan tubuh sangat menentukan pada percepatan tindakan pramukawan-pramukawati menuju target dan cita-cita masa depan. Kesehatan tubuh yang terganggu justru akan berakibat fatal pada keberlangsungan proses pengembangan diri tersebut. Selanjutnya dalam masalah emosional, pramukawan-pramukawati diharapkan untuk menguasai dan memahami ketahanan mental mereka dalam menghadapi tantangan yang akan dihadapi saat proses pengembangan diri dan pembentukan watak keunggulan diri dalam jiwa mereka. Pramukawan-pramukawati yang emosional cenderung selalu gagal dalam pemecahan masalah-masalah sosial dan masa depan. Sebaliknya, pramukawan-pramukawati yang mampu mengatur frekuensi mental dan psikologi akan tetap bertahan dan bersabar dalam menghadapi permasalahan-permasalahan masa depan yang pada akhirnya juga membantu pramukawan-pramukawati untuk mencari celah-celah kesempatan alternatif sebagai bentuk tindakan solutif. Sedangkan dalam tataran spiritual, pramukawan-pramukawati harus mampu memahami substansi tindakan dan cita-cita yang akan dicapai. Dalam hal ini pramukawan-pramukawati harus mampu mengukur sejauh mana nilai-nilai positif yang terkandung dalam cita-cita tersebut, tidak saja bagi diri sendiri tapi juga bagi orang lain, bangsa, dan negara. Selain itu, pramukawan-pramukawati juga harus mendeteksi pemahaman diri dalam memaknai kehidupan secara kontekstual. Artinya, pemaknaan ini dapat berbentuk dengan perenungan dan pemikiran (tadabbur atau tafakkur) tentang kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa dalam kehidupan ini. Jiwa spiritualitas berfungsi sebagai penyeimbang antara kemampuan berpikir (IQ) dan ketahanan mental (EQ) dalam usaha pembentukan karakter pribadi unggul. Beberapa langkah yang harus dilakukan oleh pramukawan-pramukawati dalam pemulihan vitalitas secara konsisten ini adalah pertama, menentukan strategi belajar dan jadwal kegiatan sehari-hari dalam menjaga ketahanan fisik pramukawan-pramukawati. Strategi belajar dan jadwal kegiatan menjadi salah satu jalan utama dalam tataran fisik ini. Hal ini disebabkan, ketahanan fisik hanya dapat diperoleh oleh pramukawan-pramukawati dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan olah raga secara konsisten dan menentukan strategi atau tindakan dalam peningkatan ketahan fisik tersebut.
Kedua, melatih untuk berbicara di hadapan publik. Hal ini ditujukan untuk meningkatakan kualitas mental dan kepekaan emosi pramukawan-pramukawati ketika menghadapi masalah yang akan dihadapi. Berbicara di hadapan publik pada hakikatnya merupakan latihan mental dan psikologis pramukawan-pramukawati untuk mengatur kegiatan hormon dan menciptakan performance yang baik. Sedangkan publik merupakan tempat evaluasi mental pramukawan-pramukawati untuk menghadapi masalah yang akan terjadi. Publik merupakan gambaran masyarakat yang darinya pramukawan-pramukawati memperoleb berbagai macam penilaian terhadap diri sendiri. Latihan ini merupakan upaya aplikatif yang harus dilakukan dalam rangka menguji, mengevaluasi, serta meningkatkan mental pramukawan-pramukawati.
Ketiga, mendisiplinkan diri dalam beribadah. Konsep beribadah sebenarnya sangat luas, yaitu tidak hanya menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, namun juga manusia dengan seluruh isi alam dunia. Langkah pertama adalah melaksanakan ibadah secara konsisten sebagai manifestasi rasa syukur atas pemberian rahmat dan kehidupan di dunia. Manifestasi rasa syukur tersebut pada gilirannya akan menyeimbangkan tingkat emosi dan inteligensi pramukawan-pramukawati. Dalam diskusi online, Abu Zahro memberikan beberapa upaya pembentukan pribadi unggul melalui peningkatan spiritualitas ini, yaitu: mengenal Allah, mengenal akhirat, membangun paradigma positif, dan membentuk bening hati.[11] Ketiganya—menurut Zahro—merupakan perilaku integral yang harus dilaksanakan oleh pramukawan-pramukawati secara utuh dan konsisten.
6. Selalu berpikir “menang-menang”
Dalam tahap pengembangan yang keenam ini, Fabe Ida S. Santosa membedakan dengan tahap dan tindakan persaingan pada umumnya. Secara general, pramukawan-pramukawati yang ingin menjadi unggul selalu mempunyai prinsip diri sendiri yang cenderung individualistik, dan tidak mementingkan kemenangan pihak lain. Begitu pula dengan dominan petunjuk pembina kepada pramukawan-pramukawati untuk menjadi unggul untuk membangun sikap kompetitif. Kedua sikap ini (kompetitif dan individualistik) pada akhirnya akan menegasikan kepekaan pramukawan-pramukawati dalam melihat realitas sosial dan berafiliasi dengan the other. Sikap kompetitif bukan ingin menciptakan suasana persaingan yang sehat, namun justu menimbulkan rasa individualistik. Begitu juga sebaliknya, sikap individualistik untuk menjadi pemenang sendiri (mau menang sendiri) justru akan menghambat pada proses akselerasi pencapaian tujuan karena tidak didukung dari faktor eksternal.
Sedangkan usaha yang ditawarkan oleh Fabe Ida ini justru ingin membangun prinsip kemenangan pribadi dengan tetap menghargai akan usaha orang lain untuk mencapai tujuan yang sama. Dalam hal ini, pramukawan-pramukawati harus memahami bahwa kemenangan pribadi tidak seutuhnya dapat melebihi aspek lain kelebihan orang lain (pramukawan-pramukawati lain). Hal ini disebabkan kesuksesan seseorang cenderung dilihat sebagai suatu hasil keseluruhan, meski pada umumnya mereka sukses hanya dalam satu aspek dan potensi.
Begitu pula substansi yang ingin dibangun Fabe Ida dalam usaha yang keenam ini adalah pemahaman pramukawan-pramukawati tentang kesuksesan dan kemenangan yang tidak dapat berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain. Artinya, Fabe Ida berhasrat untuk menciptakan paradigma kooperatif dalam jiwa pramukawan-pramukawati, dan bukan paradigma kompetitif yang—menurutnya—justru akan melahirkan sikap individialistik. Nilai-nilai kerja sama merupakan salah satu prasyarat pramukawan-pramukawati untuk membentuk karakter keunggulan diri. Dengan demikian, pramukawan-pramukawati yang ingin selalu berpikir untuk menjadi ‘pemenang’ harus berpagang teguh pada sikap-sikap sosialis dan kooperatif, dan bukan sikap individualistik dan kompetitif.
Terlepas dari pemahaman Fabe Ida, pramukawan-pramukawati yang berpikir untuk menjadi pemenang pada hakikatnya telah berusaha membangun sikap optimisme dalam diri. Pramukawan-pramukawati yang berpikir untuk selalu menjadi jawara dalam setiap persaingan berarti—secara tidak langsung—telah membaptis dirinya sendiri untuk bersikap optimis pada kemampuan yang dimiliki. Dalam hal ini, pramukawan-pramukawati harus memiliki komitmen dan rasa kepercayaan diri agar proses pengembangan diri sebagai jalan menuju pembentukan pribadi unggul dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Pramukawan-pramukawati harus percaya bahwa potensi diri akan sangat berpengaruh pada kesuksesan diri mereka di masa depan. Dengan potensi tersebut, pramukawan-pramukawati seharusnya meyakini bahwa masih ada peluang untuk menjadi unggul dengan bekal potensi dan bakat yang dimiliki. Tentunya, kepercayaan dan keyakinan ini diperkuat dengan sikap teguh hati dan selalu berpikir untuk menjadi pemenang.
7. Bekerja dengan sinergi (kerja sama yang kreatif) dalam segala hal
Salah satu usaha dalam pembentukan pribadi unggul adalah bekerja dengan sinergi. Sinergi yang dimaksud di sini adalah membangun kerja sama yang kreatif, dan—sekali lagi—bukan menciptakan persaingan yang dominan menyebabkan timbulnya sikap individualistik dalam diri pramukawan-pramukawati. Kerja sama ini merupakan salah satu tindakan efektif yang harus dilakukan oleh pramukawan-pramukawati untuk mempercepat pencapaian tujuan yang direncanakan. Hal ini disebabkan karena keunggulan diri dalam jiwa pramukawan-pramukawati dapat pula ditumbuhkan dengan kerja sama secara kreatif antara masing-masing pramukawan-pramukawati dalam satu kelas atau sekolah. Dari hal tersebut, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pramukawan-pramukawati dalam rangka membangun sinergi ini secara efektif:
Pertama, menentukan beberapa teman yang akan dijadikan rekan atau mitra dalam kerja sama tersebut. Kerja sama yang dimaksud dalam konteks ini lebih pada usaha belajar kelompok atau saling membantu akan kesulitan-kesulitan yang dihadapi kelompok itu secara umum atau masing-masing individu pramukawan-pramukawati secara khusus. Tentunya, penentuan akan rekan dan mitra ini harus berdasarkan pada kesesuaian dan keseimbangan potensi, bakat, dan kemauan yang dimiliki. Beberapa pramukawan-pramukawati yang mempunyai kemampuan sama harus bergabung dan membentuk suatu kelompok khusus untuk dapat melakukan kerja sama dalam segala hal yang positif.
Kedua, menentukan langkah-langkah dan program-program yang akan dilaksanakan dalam proses kerja sama ini. Dalam mewujudkan kerja sama yang kreatif, pramukawan-pramukawati membutuhkan planning (perencanaan) yang matang sebagai pijakan dan refleksi pembelajaran ke depan. Sebuah kelompok tidak akan mampu berjalan secara maksimal jika tidak mempunyai pandangan, arah, dan visi menuju kesuksesan. Karena bagaimanapun, visi tersebut sangat berpengaruh pada konsistensi pramukawan-pramukawati dalam proses pengembangan diri melalui kelompok kerja sama tersebut.
Ketiga, menentukan tata laksana dalam kelompok. Artinya, pramukawan-pramukawati harus menentukan peraturan-peraturan informal yang harus ditaati untuk mengefektifkan perjalanan program kemitraan dan kerja sama ini. Peraturan tersebut tentunya tidak terikat dengan berbagai aktifitas individu pramukawan-pramukawati bersangkutan. Peraturan ini dibuat hanya untuk menjaga efektifitas dan konsistensi kerja sama agar tetap kreatif dan berkelanjutan. Bagaimanapun, peraturan hanya bisa dibuat oleh pramukawan-pramukawati yang mempunyai potensi dan karakterisitik yang sama karena juga menyangkut target dan visi utuh yang dibuat.
Oleh karena itu, pramukawan-pramukawati yang ingin mengembangkan kemampuan keunggulan diri harus mampu menjalin afiliasi, membangun jaringan, kelompok, dan mampu bekerjasama secara efektif dengan sesama dalam berbagai aspek kehidupan. Keunggulan pramukawan-pramukawati tidak bisa dilepaskan dengan pengaruh/faktor ekstern yang memotivasi upaya pengembangan diri untuk menjadi unggul tersebut. Pramukawan-pramukawati dalam hal ini dituntut untuk selalu membuka diri dalam bekerja sama dan membantu sesama untuk tujuan yang baik dan positif, agar cita-cita dan hasrat dalam membangun karakter pribadi unggul dapat berjalan dengan baik.
8. Memahami, berempati, dan menghargai orang lain.
Usaha lain untuk membentuk karakter keunggulan diri adalah dengan memahami, berempati, dan mengahargai orang lain. Sebenarnya, usaha tersebut sejalan dengan ilustrasi empiris yang dicontohkan oleh Stephen R Covey dalam buku The 8th Habit: from Effectiveness to Greatness. Covey dalam hal ini memberikan kisah nyata tentang Muhammad Yunus, salah seorang pengajar mata kuliah ekonomi di salah satu Universitas di Bangladesh yang pada waktu itu (sekitar 25 tahun yang lalu), sedang dilanda bencana kelaparan. Suatu hari, setelah memberikan kuliah pada mahapramukawan-pramukawati di universitas tersebut, Yunus keluar dari ruang kelas dan langsung melihat banyak kerangka hidup berkeliaran di sekelilingnya yang tidak lain adalah orang-orang yang sedang sekarat tinggal menunggu ajalnya.
Di sinilah awal mula panggilan jiwa Yunus. Setelah ia melihat kondisi pahit tersebut, ia langsung berpikir bahwa teori dan mata kuliah yang diajarkan pada hakikatnya tidak berguna dan dianggap sebagai sebuah khayalan karena tidak memiliki arti bagi kehidupan orang-orang yang sedang menderita kelaparan.
Dari suara jiwa ini, Yunus akhirnya belajar untuk memahami, berempati, dan menghargai orang lain. Tak sampai di situ, Yunus punya maksud ingin mengetahui apakah ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan sesama dari kematian, walaupun hanya untuk satu orang. Dan pada saat itulah, dengan uang yang dimiliki untuk pertama kalinya Yunus memberikan bantuan modal kepada seorang Ibu pembuat dingklik bambu, dan ternyata berhasil.
“Nurani saya gemuruh”, begitu ungkap Yunus sebagai salah satu rasa empatinya terhadap orang yang sedang dilanda kelaparan tersebut. Karena semakin lama, banyak orang yang meminta uluran tangannya, akhirnya Yunus berupaya untuk bisa meminjam uang dari Bank yang ada di kampusnya. Yang pertama ia lakukan adalah meyakinkan pihak bank bahwa uang yang akan digunakan untuk membantu orang kelaparan dan miskin sebagai modal akan dapat dikembalikan. Suatu usaha yang saat ini mungkin tabu dilihat dan diyakini keberhasilannya.
Namun, dengan kreativitas dan ketangguhan Yunus, akhirnya ia berhasil mendapatkan pinjaman dari Bank. Lebih jauh lagi, apa yang dijanjikan Yunus kepada pihak Bank ternyata juga bisa dibuktikan karena semua pengusaha kecil yang diberi pinjaman ternyata sanggup mengembalikan uang yang dipinjamnya.
Dari situlah, semakin banyak pengusaha kecil yang meminta bantuan Yunus. Tidak saja dari satu. Tidak saja dari satu atau dua desa, tapi berkembang menjadi ratusan desa. Kondisi itulah yang kemudian mengilhami berdirinya Greeman Bank yang ia dirikan pada tanggal 2 Oktober 1983, sebuah bank resmi yang saat ini sudah berkoperasi di 46.000 desa yang ada di Bangladesh, memiliki 1.267 cabang, dan mampu mempekerjakan tidak kurang dari 12.000 personel. Karena keberhasilannya itupula, Greeman Bank ini konon sudah mampu meminjamkan lebih dari 4,5 miliyar dolar Amerika Serikat. Tidak saja bagi pemberdayaan kaum ibu miskin, tapi juga memberdayakan kaum pengemis.[12]
Inilah gambaran manusia unggul yang bermula dari usaha untuk memahami, berempati, dan menghargai orang lain yang nota bene harus dikuasai dan dilaksanakan oleh pramukawan-pramukawati. Yunus—menurut Covey—tidak saja mampu membangun perilaku efektif melalui 7 aplikasi kebiasaannya: 1) bersikap proaktif, 2) memulai dengan akhir dalam pikiran, 3) mendahulukan yang utama, 4) berpikir menang, 5) berusaha mengerti lebih dahulu (pathos) sebelum dimengerti (logos), 6) mewujudkan sinergi, dan 7) meningkatkan kebiasaan pembaruan diri, seperti yang telah dingkapkan dalam buku sebelumnya –The 7 Habits of Hingly Effective People (1989), melainkan melampauinya dengan cara menunjukkan potensi kehebatan yang dimilikinya (greatness).

C. Faktor yang Mempengaruhi terhadap Peningkatan Sikap Keunggulan Diri
Untuk menjadi unggul, seseorang juga tidak cukup hanya berbekal sekadar definisi dan trik-trik menjadi pribadi excellent. Hal ini disebabkan kedua hal tersebut lebih bersifat pengetahuan an-sich. Penerapan usaha tentu harus didorong oleh beberapa faktor yang turut membantu seseorang untuk menerapkan di kehidupan nyata.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan sikap keunggulan diri seseorang, beberapa di antaranya adalah:
1. Percepatan diri
Percepatan diri di sini adalah gambaran dari kemampuan pramukawan-pramukawati untuk mengelola waktu. Pramukawan-pramukawati yang mempunyai kedisiplinan diri tinggi adalah salah satu calon pribadi unggul karena mampu mengelola waktu dengan sebaik mungkin. Faktor pertama ini diukur dengan manajemen dan pengelolaan jadwal sehari-hari pramukawan-pramukawati. Artinya, pramukawan-pramukawati yang sudah mempunyai jadwal kegiatan sehari-hari atau jadwal kerja sekolah dan menerapkannya secara efektif dan efisien merupakan gambaran dari sosok pribadi unggul di masa depan. Hal ini disebabkan, pribadi unggul selalu berbuat lebih banyak dari pada orang lain dalam rentang waktu yang sama. Kemampuan pramukawan-pramukawati untuk mengelola dan mengatur waktu 24 jam sehari akan berdampak pada kematangan dan kepribadian mereka untuk meningkatkan watak keunggulan diri.
Selain itu, percepatan diri di atas yang dimaksud adalah melakukan usaha-usaha positif seefektif mungkin. Meski banyak melakukan tindakan-tindakan atau proses pengembangan diri, namun pramukawan-pramukawati yang tidak bisa membedakan tindakan positif dan negatif bukan termasuk pribadi unggul. Pramukawan-pramukawati unggul adalah mereka yang mampu menggunakan waktu dan tenaga untuk melakukan tindakan sebanyak mungkin yang besifat positif-masa depan. Hal ini bisa disebut bahwa pramukawan-pramukawati unggul adalah pramukawan-pramukawati yang sangat memperhatikan pada kuantitas usaha dan kuantitas hasil yang diperoleh.
Kemampuan percepatan diri merupakan ranah afektif pramukawan-pramukawati yang berhubungan dengan kemampuan fisik dan inteligensi seseorang. Percepatan diri juga bisa masuk dalam ranah psikomotorik pramukawan-pramukawati. Di mana, pramukawan-pramukawati yang mempunyai kemampuan percepatan diri tersebut akan selalu berpikir untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam rentang waktu yang relatif singkat. Hasil tersebut tidak akan diperoleh jika pramukawan-pramukawati tidak menggunakan fisik dan pikiran secara maksimal.
Percepatan diri dominan dimiliki oleh pramukawan-pramukawati yang ber-IQ lebih dari 145. Pramukawan-pramukawati golongan ini sering disebut dengan pramukawan-pramukawati berbakat (talented student) dan pramukawan-pramukawati cerdas (cleaver student). Keduanya merupakan refleksi seseorang yang telah berhasil menggunakan dua kemampuan dasarnya tepat pada sasaran. Dalam dunia pendidikan, kedua golongan pramukawan-pramukawati ini biasanya diperlakukan secara khusus dan ditempatkan pada kelas akselerasi, atau lebih umumnya Sekolah Luar Biasa (SLB). Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa percepatan diri adalah kemampuan diri dalam memaksimalkan waktu untuk mendapatkan hasil berkualitas.
Kaitannya dengan percepatan diri, Yahya bin Hubairah, pembina Ibnu Qayyim al-Jauziah berkata: “Waktu adalah barang paling berharga untuk kau jaga. Menurutku, ia adalah barang yang paling mudah hilang darimu. Waktu adalah kita, orang bodoh adalah mereka yang diberi modal waktu namun disia-siakan”.
Percepatan diri merupakan kemampuan pramukawan-pramukawati dalam menggunakan waktu maksimal lebih dari orang lain yang dilihatnya. Salah satu contoh percepatan diri adalah jika ada pramukawan-pramukawati yang melihat orang lain menggunakan waktu belajar 5 jam perhari, maka ia akan bertekad untuk mempunyai bonos waktu belajar lebih dari porsi 5 jam tersebut. Contoh ini merupakan salah satu tindakan dari pengaruh kemampuan percepatan diri pramukawan-pramukawati. Bahwa pramukawan-pramukawati yang mempunyai kemampuan percepatan diri yang tinggi untuk menjadi pribadi unggul, selalu memiliki kebiasaan melakukan sesuatu di mana orang lain enggan melakukannya. Oleh karena itu, kemampuan percepatan diri merupakan salah satu faktor penting dalam membangun watak keunggulan diri dalam jiwa pramukawan-pramukawati.
2. Percaya diri
Percaya diri merupakan modal dasar untuk menjadi pribadi unggul. Percaya diri sebenarnya masuk dalam ranah emosional pramukawan-pramukawati dalam menghadapi segala tantangan. Pramukawan-pramukawati yang mempunyai rasa percaya diri yang kuat cenderung mampu mengatur psikologisnya dalam menjalani proses percepatan/pengembangan diri. Khususnya, ketika pramukawan-pramukawati disuruh untuk menyampaikan pendapat, retorika, diskusi, ataupun presentasi, maka dari sinilah emosi dan kekuatan psikologis pramukawan-pramukawati diuji.
Pramukawan-pramukawati unggul biasanya mempunyai habit untuk selalau ‘menang’ dan menjadi jawara dalam setiap kompetisi (baik fomal ataupun non-formal). Target menjadi jawara jelas tidak bisa dipisahkan dengan sikap kepercayaan mereka pada diri sendiri, pada potensi, dan bakat yang dimiliki.
Tak salah jika percaya diri menjadi salah satu faktor terbentuknya pribadi unggul. Kepercayaan pada diri berarti meyakini akan kemampuan maksimal yang dimiliki oleh seseorang. Bahkan, modal percaya diri dapat meningkatkan kemampuan tersebut secara simultan. Orang yang kurang cerdas, namun memiliki percaya diri yang tinggi cenderung lebih sering berhasil daripada orang pintar yang bermental lemah. Hal ini dapat ditujukan dalam berbagai event perlombaan, khususnya yang menfokuskan pada perlombaan di hadapan publik. Pengaruh mental seseorang sangat menentukan pada keberhasilan dan kesuksesan dia dalam perlombaan tersebut. Seorang pramukawan-pramukawati yang sudah siap mengikuti perlombaan pidato misalnya, tapi tidak memiliki rasa percaya diri yang kuat cenderung mempengaruhi kelancaran retorika. Percaya diri di sini, dibutuhkan untuk meningkatkan performance seseorang saat berhadapan dengan orang lain.
Asumsi tentang pentingnya percaya diri sebagai salah satu faktor peningkatan watak keunggulan diri seseorang didasarkan pada fanomena sosial yang berkembang saat ini. Seorang membutuhkan rasa percaya diri untuk dapat menjalin afiliasi dan berkomunikasi aktif dengan masyarakat sekitar agar dia tidak tersingkir terlebih dahulu dalam persaingan global. Hal ini sesuai dengan kaidah keseimbangan tentang kecerdasan emosi dan intelektual seseorang. Banyak orang pintar yang gagal dalam tataran sosial hanya karena mereka tidak mempunyai mental (rasa percaya diri) yang kokoh untuk membangun relasi antar sesama. Padahal, keunggulan diri juga ditentukan oleh kemampuan seorang dalam membangun komunikasi, jaringan, dan relasi dengan dunia luar.
Statemen di atas jelas merefleksikan tentang percaya diri sebagai faktor peningkatan watak keunggulan diri. Jika demikian, maka pramukawan-pramukawati seharusnya dapat membangun dan meningkatkan ketahanan mentalnya sebagai modal untuk menghadapi masa depan gemilang. Pramukawan-pramukawati juga harus dipupuk ketahanan mental dan rasa kepercayaan dirinya sejak dini sebagai persiapan menjadi unggul.
3. Sistem yang Kondusif
Faktor lain yang mempengaruhi pada pembentukan pribadi unggul adalah sistem yang kondusif. Faktor yang ketiga ini biasanya ‘digunakana’ jika seseorang tidak memiliki kepercayaan diri dan kemampuan percepatan diri yang tinggi, maka dia akan masuk ke dalam sistem atau lingkungan yang menjadikan ia bisa bergerak lebih cepat dan dinamis. Seorang yang berada dalam lingkungan dan sistem yang kondusif bisa saja menyamai atau bahkan melebihi orang lain yang mempunyai kemampuan percepatan diri dan rasa percaya diri yang kuat.
Hal ini bisa dianalogikan dengan dua ekor kupu-kupu yang satu masuk ke dalam mbil yang melesat maju. Sedangkan kupu-kupu yang lain tidak masuk ke mobil, hanya terbang menggunakan kemampuan sayapnya. Lalu, ukur dalam rentang lima menit, mana yang lebih dulu sampai ke tujuan? Jelas akan ada perbedaan yang signifikan jarak tempuh dan kecepatan keduanya. Kupu-kupu yang masuk mobil tentu lebih unggul.
Tapi, kalau mobil tersebut berhenti dan mogok, maka mungkin yang lebih cepat adalah dengan terbang sendiri. Artinya, sistem yang orang masuki sangat berpengaruh pada percepatan diri. Salah dalam memilih lingkungan dan sistem yang kondusif akan berakibat fatal pada mental dan masa depannya. Oleh karena itu, pramukawan-pramukawati harus memilih secara selektif sistem dan pergaulan yang ada. Pramukawan-pramukawati yang berkeinginan untuk menjadi unggul akan mencari sistem atau teman-teman pergaulan yang berkualitas, terjaga, memiliki kehalusan budi pekerti dan juga unggul.
Lembaga atau organisasi yang memiliki sistem unggul dan terencana banyak yang telah membuktikan dirinya mampu unggul dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, pramukawan-pramukawati yang berhasrat untuk menjadi unggul harus benar-benar selektif dalam memilih teman pergaulan ataupun sistem yang kondusif dan unggul pula. Pramukawan-pramukawati yang mampu masuk dan menemukan dua hal tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi pula pada keunggulan dirinya. Salah satu riwayat “Bergaul dengan tukang minyak wangi akan terbawa wangi, dan bergaul dengan pandai besi akan terbawa bau bakaran”.
Statemen di atas jelas menunjukkan salah satu signifikansi sistem kondusif bagi keunggulan diri pramukawan-pramukawati. Sistem kondusif kemudian menjadi faktor esensial yang perlu diperhatikan oleh pramukawan-pramukawati. Begitu pula oleh pihak sekolah yang berwenang bagi keberlangsungan proses pembelajaran.
Apabila sekolah salah dalam memilih sistem, salah dalam mengelola pembelajaran, dan salah dalam menyeleksi stretegi pembelajaran, maka secara tidak langsung sekolah sudah salah dalam menentukan masa depan pramukawan-pramukawati. Maka dari itu, sekolah ataupun pramukawan-pramukawati harus mencari sistem yang baik dan kondusif, yang dapat mengkantrol tata nilai kehidupannya menjadi lebih baik. Karena dalam sistem yang kondusif meniscayakan adanya peluang keberhasilan pramukawan-pramukawati untuk menjadi pribadi unggul dan prestatif.
4. Berdaya saing positif
Faktor yang keempat adalah kemampuan berdaya saing positif. Pramukawan-pramukawati yang memiliki naluri daya saing positif cenderung sangat mempengaruhi pada keberlanjutan kualitas keilmuan mereka dalam setiap kesempatan, seseorang yang memiliki daya saing positif selalu memiliki hasrat untuk berkompetisi secara sehat.
Dalam konteks ini, daya saing positif merupakan ranah emosional dalam diri seorang. Setiap manusia di bumi sebenarnya sejak dulu telah dianugerahi naluri untuk berlomba-lomba dalam kebajikan. Ironisnya, banyak orang yang melihat pesaingnya sebagai musuh yang dapat merintangi usaha untuk berbuat kebajikan dan menjadi pemenang. Mayoritas manusia sering menganggap sesuatu yang sama atau bahkan lebih sebagai ancaman. Padahal, jika ditelusuri dan dicermati lebih jauh, para pesaing tersebut sebenarnya merupakan karunia Tuhan yang tak ternilai. Para pesaing tersebut justru akan menjadi mitra untuk meningkatkan dan mengevaluasi kualitas kemampuan seseorang untuk menjadi unggul. Pesaing lebih sering dianggap sebagai pengancam dan penghambat proses pengembangan diri.
Kemampuan/daya saing positif merupakan refleksi sikap seorang dalam melihat kehidupan sebagai proses kompetisi menuju kesejahteraan yang lebih baik di masa depan. Kemampuan ini hanya dimiliki oleh orang yang sadar tentang urgensi kehidupan yang penuh dengan persaingan dan mega kompetisi. Daya tersebut juga menandakan suatu pemahaman seseorang dalam berusaha secara maksimal untuk menjadi pemenang dengan jalan dan strategi yang positif.
Bedahalnya dengan orang yang tidak memiliki kemampuan atau daya saing positif ini, mereka akan terpuruk karena dirinya sendiri disebabkan memandang saingan sebagai musuh. Keterpurukan tersebut termanifestasikan dari kelalaian mereka dalam meningkatkan kualitas dan kemampuan diri. Sehingga yang terjadi justru kemampuan dan kualitas etos kerja mereka menjadi terbatas. Orang semacam ini seringkali emosional saat mengalami kekalahan dari pesaingnya. Kemudian ia bertindak sesuka hati dengan jalan negatif untuk memperoleh kemenangan.
Orang yang memiliki daya saing positif justru akan menanggapi adanya saingan dengan senang hai, seolah dia mendapat sparring patner yang akan memacu kerja lebih berkualitas. Sebuah ungkapan “Lebih baik jadi juara kedua di antara juara umum, dari pada juara pertama di antara yang lemah”. Orang-orang yang sering iri hati dan sinis dengan prestasi orang lain biasanya tidak akan unggul. Dengan demikian, berani bersaing secara sehat dan positif adalah kunci dan faktor penting menuju gerbang kesuksesan.
5. Kemampuan bersinergi (jamaah)
Konsep jamaah sebenarnya tidak terlalu berbeda jauh dengan kemampuan seorang untuk menjalin relasi antar sesama, membangun komunikasi dan komunitas. Sinergi merefleksikan suatu kekuatan yang ada dalam diri seorang karena paduan kekuatan-kekuatan lain yang bersatu. Dalam konteks psikologi belajar, kemampuan sinergi merupakan ranah psikomotorik pramukawan-pramukawati dalam menjalani kehidupan sosial secara bersama-sama dan berjamaah.
Keunggulan diri seorang banyak dilatarbelakangi dari faktor yang kelima ini. Di mana, kemampuan tersebut ingin menyinergikan berbagai macam jaringan sosial untuk membantuk dan meningkatkan keunggulan dalam dirinya.
Asumsi tentang signifikansi bersinergi bagi keunggulan diri seseorang dapat diperkuat dengan analogi terbentuknya nuklir dari berbagai macam partikel-partikel kecil atom yang saling bersinergi. Dari partikel-partikel kecil atom tersebut pada kenyataannya mampu menghancurkan dua kota seperti Hirosima dan Nagasaki sekaligus. Dari hal yang kecil-kecil, atom dapat berubah wujud menjadi nuklir yang maha dahsyat.
Belajar dari analogi dan fenomena atom tersebut, maka keunggulan diri seseorang juga sangat dipengaruhi oleh kemampuan dia dalam membangun sinergi antar pramukawan-pramukawati. Konteks berjamaah dalam aspek keunggulan diri ini tentu mendefinisikan sebagai jamaah dalam arti positif. Artinya, kemampuan seorang dalam berjamaah/bersinergi tergantung sejauhmana ia memosisikan dirinya sebagai bagian yang utuh di dalamnya dengan berbagai macam tindakan dan rencana-rencana yang positif.
Sebagaimana usaha untuk menjadi unggul, bersinergi tentunya juga terkait erat dengan kemampuan seorang untuk bekerja sama dalam hal-hal yang positif, yaitu target untuk menjadi pribadi unggul dan mandiri.
Oleh karena itu, tak bisa disangkal bahwa kemampuan seorang dalam membangun kelompok dan berjamaah secara positif merupakan faktor signifikan untuk menuju keunggulan diri di masa depan.
6. Menajemen Qalbu
Salah satu faktor lain yang mempengaruhi peningkatan pribadi unggul adalah manajemen qalbu. Dalam perspektif sosial, manajemen qalbu bisa dikatakan sebagai kecerdasan spiritual. Kecerdasan ini diakui merupakan faktor paling esensial dalam pembentukan pribadi unggul. Pramukawan-pramukawati yang mempunyai kecerdasan intelektual pada umumnya mampu melampaui kehidupan secara dinamis dengan pemahaman akan makna terdalam dari kehidupan itu sendiri. Dari sini, kecerdasan spiritual merupakan ranah metafisik pramukawan-pramukawati dalam mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
Kecerdasan spiritual atau manajemen qalbu ini juga merefleksikan kemampuan pramukawan-pramukawati dalam mengendalikan suasana hatinya. Rassulullah Saw bersabda “Ingatlah dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama hati”. (HR. Bukhari-Muslim)
Oleh karena itu, seorang yang memiliki kecerdasan spiritual dan kemampuan manajemen qalbu (hati) akan membuka peluang untuk menjadi unggul di masa depan. Kecerdasan spiritual itu sendiri sangat sulit ditumbuhkan dalam diri semua orang. Meski sejak dahulu Tuhan telah menganugerahkan kekuatan spiritualitas dalam diri setiap manusia, namun banyak yang tidak menyadai keberadaan aura metafisik tersebut.
Dalam organisasi misalnya, seorang harus mampu mengelola konflik. Sedangkan konflik bukan untuk dihindari atau dihilangkan. Konflik adalah untuk dikelola agar menjadi sebuah kekuatan yang positif. Banyak fakta membuktikan bahwa rutuhnya organisasi itu karena pengelolaan hati para penpembinasnya kurang baik. Ada pepatah yang berbunyi “Kakayanku adalah hatiku, apapun yang engkau lakukan, yang penting adalah jangan kau curi hatiku”.
Secara filosofis, pepatah di atas ingin mengajak manusia di bumi untuk handal mengelola dan menjaga hatinya setiap waktu. Hati menjadi inti (core) dan pusat (spot) eksistensi Tuhan Yang Maha Kuasa. Orang yang tidak bisa mengelola hati cenderung menghabiskan waktu untuk meladeni suara-suara kebusukan yang timbul dalam dirinya. Sehingga, dia tidak akan berprestasi kerena energi habis untuk memikirkan orang lain. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa manajemen qalbu juga menjadi faktor penting dalam setiap proses pembentukan karakter keunggulan diri.[13]
7. Kecerdasan intelektual
Kecerdasan intelektual seringkali didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam memaksimalkan seluruh pikiran dalam otak. Definisi itu menunjukkan bahwa IQ hanya menjadi media untuk melengkapi keunggulan diri seseorang. Hal ini disebabkan keunggulan diri saat ini tidak bisa diukur oleh kecerdasan intelektual saja, karena banyak orang pintar dan mempunyai title sarjana seringkali melanggar aturan-aturan/norma-norma masyarakat yang berlaku. Untuk itu kecerdasan intelektual dalam pembentukan karakter pribadi unggul menjadi faktor kurang dominan.
Meski demikian, kecerdasan intelektual ini tetap berpotensi dalam membentuk keunggulan diri seseorang. Dalam masalah manajemen qalbu misalnya, maka bekal utama yang harus dimiliki oleh seseorang adalah ilmu dan kecerdasan intelektual. Konsep perubahan juga telah membuktikan bahwa seseorang dapat berubah bukan karena tahu, tapi karena paham. Dan orang bisa paham karena ada informasi atau ilmu. Sedangkan ilmu hanya bisa diperoleh jika dia mempunyai kecerdasan intelektual yang memadai. Maka, bagaimana seseorang dapat membersihkan hatinya jika tidak mempunyai kecerdasan intelektual yang memadai?
Oleh karena itu, kecerdasan intelektual tetap menjadi faktor bahkan modal dasar seseorang untuk menjadi unggul. Seseorang yang mampu dalam menata kemampuan intelektualnya seringkali malahirkan ide-ide atau bahkan karya-karya berkualitas sebagai wujud dan bukti keunggulan dirinya. Selain itu, kecerdasan intelektual akan membantu dia untuk membangun jaringan dan relasi di luar lingkungannya. Hal ini disebabkan kecerdasan intelektual ternyata mampu menarik perhatian dan membangkitkan motivasi orang lain di luar wilayah. Jika sudah terbangun jaringan dan relasi yang kokoh, maka dia akan mudah untuk menjadi unggul, sebagaimana faktor lainnya yaitu kemampuan bersinergi dan berjamaah secara positif.
Dalam beberapa pengamatan, kecerdasan intelektual juga akan memungkinkan seseorang untuk membuka ruang dengan pengetahuan secara lebih luas dan komprehensif. Dengan ini, dia akan cepat menguasai seluruh rahasia-rahasia pengetahuan sebagai bekal untuk menjadi unggul dan prestatif. Pengetahuan tersebut kemudian dimanifestasikan dalam kehidupan nyata bagi kepentingan masyarakat secara umum.
Realisasi pengetahuan dalam kehidupan nyata merupakan refleksi empiris para pribadi unggul yang menaruh perhatian pada keberadaan fenomena masyarakat Indonesia, khususnya, yang masih terbelakang dalam segi keilmuan dari pada negara-negara tetangga lain.
Kecerdasan spiritual sebenarnya memuat dan terdiri dari berbagai macam cabang kecerdasan, yaitu antara lain: kecerdasan matematik-logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan inter-personal, kecerdasan intra-personal, dan kecerdasan naturalis.[14] Sebagaimana telah disebutkan di depan bahwa pribadi unggul adalah mereka yang mampu memaksimalkan seluruh kecerdasan dalam dirinya di kehidupan nyata.
8. Kemampuan mengendalikan emosi (kecerdasan emosional)
Faktor kecerdasan lain yang mempengaruhi terhadap peningkatan watak pribadi unggul adalah kemampuan mengendalikan emosi. Seorang yang mempunyai kemampuan untuk mengatur emosi dan psikologisnya dalam kehidupan sehari-hari seringkali mudah untuk menyelesaikan suatu persoalan hidup. Hal ini disebabkan, suatu masalah atau problem tidak saja membutuhkan kemampuan dalam intelektual, tapi juga kemampuan mengendalikan emosi untuk dipecahkan secara arif dan tepat sasaran. Dalam ranah kecerdasan, kemampuan mengendalikan emosi sebenarnya sangat tepat dihubungkan dengan kecerdasan emosional (emotional quotient). Secara sederhana, kecerdasan emosional merupakan ranah psikologis seseorang yang berfungsi untuk menetralisir kecenderungan mental dan psikologis dalam menghadapi perjalanan kehidupan ini. Seorang yang mempunyai kecerdasan emosional akan mampu menyeimbangkannya dengan kecerdasan sebelumnya (kecerdasan intelektual), karena kedua kecerdasan tersebut tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Banyak terjadi kasus tentang orang yang mempunyai kecerdasan intelektual saja bisa gagal dalam menghadapi persaingan global karena tidak mempunyai ketahanan mental dan emosi dalam mengendalikan, memecahkan masalah, dan mencari solusi. Seperti halnya, pramukawan-pramukawati berprestasi yang terpergok pesta sabu-sabu, atau bahkan bunuh diri hanya karena tidak lulus UAN. Contoh ini menunjukkan bahwa bekal kecerdasan intelektual saja tidak akan memadai jika tidak didukung dengan kecerdasan (mengendalikan) emosi. Begitu juga tidak sedikit orang yang mampu mengendalikan emosinya dengan stabil, sering dirugikan karena tidak mempunyai stok keilmuan yang memadai. Seperti para pedagang yang dirugikan karena ditipu oleh makelar.
Selanjutnya, Daniel Goleman, pelopor pertama kali kecerdasan emosional, dalam bukunya “Emotional Intelligence”, mengungkapkan beberapa tokoh seperti Sternberg dan Salovey yang menyebutkan adanya lima wilayah kecerdasan pribadi dalam bentuk kecerdasan emosional ini, antara lain: pertama, kemampuan mengenali emosi diri, yaitu kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emosi itu muncul. Ini sering dikatakan sebagai dasar kecerdasan emosional. Seseorang yang mampu mengenali emosinya sendiri adalah bila ia memiliki kepekaan yang tajam atas perasaan mereka yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap. Dalam hal ini mislnya sikap yang diambil dalam menentukan berbagai pilihan, seperti memilih sekolah, sahabat, pekerjaan, sampai kepada pemilihan pasangan hidup.
Kedua, kemampuan mengelola emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaannya sendiri sehingga tidak meledak dan akhirnya dapat mempengaruhi perilakunya secara negatif. Mungkin dapat diibaratkan sebagai seorang pilot pesawat yang dapat membawa pesawatnya ke suatu kota tujuan dan kemudian mendaratkannya secara mulus. Misalnya seseorang yang sedang marah maka kemarahan itu tetap dikendalikannya secara baik tanpa harus menimbulkan akibat yang akhirnya disesalinya di kemudian hari.
Ketiga, kemampuan memotivasi diri adalah kemampuan untuk memberikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Dalam hal ini terkandung adanya unsur harapan dan optimisme yang tinggi, sehingga seseorang memiliki kekuatan semangat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Misalnya dalah hal belajar, bekerja, menolong orang lain dan sebagainya.
Keempat, kemampuan mengenali emosi orang lain adalah kemampuan untuk mengerti perasaan dan kebutuhan orang lain, sehingga orang lain akan merasa senang dan dimengerti perasaannya. Anak-anak yang memiliki kemampuan ini, yaitu sering pula disebut sebagai kemampuan berempati, mampu menangkap pesan non-verbal dan orang lain seperti: nada bicara, gerak-gerik maupun ekspresi wajah dari orang lain tersebut. Dengan demikian anak-anak ini cenderung disukasi seseorang.
Kelima, kemampuan membina hubungan adalah kemampuan untuk mengelola emosi orang lain, sehingga tercipta keterampilan sosial yang tinggi dan membuat pergaulan seseorang menjadi lebih luas. Anak-anak dengan kemampuan ini cenderung mempunyai banyak teman, pandai bergaul, dan menjadi lebih populer.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa betapa penting kecerdasan emosional ditumbuhkan dalam diri manusia atau pramukawan-pramukawati pada khususnya untuk menjadi pribadi unggul dan mandiri di masa depan.

9. Kejujuran dan dapat dipercaya
Faktor kesembilan untuk menumbuhkan karakter pribadi unggul adalah sifat kejujuran dan dapat dipercaya. Sifat ini sebenarnya lebih bersentuhan dengan sifat pribadi dan kebiasaan orang sejak kecil. Kejujuran dan dapat dipercaya seringkali dipengaruhi oleh pendidikan orang tua kepada anak-anak. Hal ini disebabkan kedua sifat tersebut merupakan sifat subyektif seseorang dalam bergaul dan berelasi dengan orang lain. Sejauhmana ia dididik untuk menjadi orang jujur dan amin (dapat dipercaya), maka sejauh itu pula ia dapat membedakan tindakan mana yang bermanfaat dan merugikan kepada orang lain.
Sifat kejujuran kemudian akan sangat mempengaruhi pada peningkatan jaringan dan komunikasi antar sesama, sehingga memudahkan seseorang untuk mencapai kesuksesan. Begitu juga, sifat jujur dan dapat dipercaya akan menjadikan seseorang sebagai tauladan dan selanjutnya akan mempermudah ia untuk mencari peluang-peluang keberhasilan masa depan. Bahkan, tak jarang orang yang hanya bermodal kedua sifat itu bisa menjadi pemimpin di lingkungan masyarakatnya. Kenyataan ini bisa dilihat dari kehidupan dan kepribadian seorang Nabi yang konon dapat menikah dengan saudagar perempuan kaya hanya dengan bermodal kejujuran dan sifat al-aminnya. Statemen di atas merupakan salah satu contoh signifikansi sifat kejujuran dan dapat dipercaya untuk menjadikan seseorang unggul dan berprestasi.
Sebaliknya, orang yang tidak memiliki sifat kejujuran dan dapat dipercaya meskipun mempunyai kualitas keilmuan yang memadai seringkali gagal dalam melangkah masa depan gemilang. Sebagaimana dalam kasus beberapa anggota dewan yang harus dimeja-hijaukan karena tindakannya yang tidak jujur dan tidak dapat memegang amanat rakyat. Mereka secara diam-diam melakukan praktik korupsi sistemik yang justru sangat merugikan kepada rakyat Indonesia. Dengan demikian, tidak bisa disangkal bahwa sifat kejujuran dan dapat dipercaya menjadi salah satu faktor orang untuk menjadi pribadi unggul dan prestatif.
10. Daya juang tinggi
Faktor terakhir yang dapat mempengaruhi terhadap peningkatan watak keunggulan diri dalam jiwa seseorang adalah daya juang tinggi. Selain daya saing positif, daya juang tinggi juga tetap menjadi faktor yang dominan dalam membentuk pribadi unggul. Daya juang merupakan ranah fisiologis manusia dalam menyelesaikan seluruh tindakan sesuai dengan target yang direncanakan. Daya juang juga menunjukkan adanya komitmen dan integritas tinggi dalam mencapai tujuan. Di mana, seorang yang ingin menjadi unggul harus mempunyai kemampuan tersebut agar proses pengembangan diri menuju manusia excellent seutuhnya dapat terlaksana dengan baik. Seseorang yang memiliki kemampuan ini juga cenderung tidak mudah putus asa dalam menggapai tujuan akhir suatu proses. Apapun dan bagaimanapun rintangan yang dihadapi pada akhirnya dapat diatasi dengan baik dan akseleratif.
Selain itu, daya juang tinggi merefleksikan sifat kesabaran seseorang dalam menempuh kehidupan yang penuh dengan liku ini. Sifat kesabaran pada diri seseorang akan membentuk ketahanan fisik yang memadai untuk menghadapi segala persoalan kehidupan tersebut. Selain itu, kesabaran juga akan memperkuat ketahanan mental seseorang dalam menghadapi segala ancaman dan kegagalan yang suatu saat mungkin saja menimpanya. Daya juang mencerminkan semangat tak kenal lelah pada jalan panjang yang bertaut tanpa sudah; suatu jalan yang penuh dengan keberingasan sosial dan individu yang nota bene menjadi penghambat untuk menjadi unggul.
Orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi, namun tidak memiliki semangat juang yang memadai seringkali merasa bosan dan jenuh dalam setiap proses perjalanan menuju sukses. Padahal, kunci utama kesuksesan konon terletak pada kemampuan seseorang dalam menghadapi hambatan (meneruskan perjuangan) di saat berada pada gerbang kegagalan. Orang seringkali tidak merasakan bahwa saat dia memutuskan untuk berhenti berusaha, maka seseungguhnya ia telah menyiakan pintu terakhir gerbang kesuksesan. Sedangkan seseorang yang memiliki daya juang tinggi senantiasa berusaha dan mencari alternatif pemecahan saat dihadapi pada permasalahan hidup agar bisa terus menempuh gerbang kesuksesan tersebut.
Hal di atas jelas menunjukkan bahwa kemampuan dan atau daya saing tinggi tetap menjadi salah satu faktor mendasar seseorang menjadi unggul di kehidupan nyata.

Tabel 8:

BEBERAPA SIFAT DAN CIRI PEMBAWAAN PRIBADI EXCELLENT
No.
Sifat-Sifat
Ciri-Ciri Pembawaan
1
Berbakat
Kecerdasan, intelektualitas, potensi, skill, dan kemampuan individu
2
Energik
Motivasi kerja tinggi, gairah hidup tinggi, fisik sehat, tidak mudah putus asa, komitmen, dan integritas tinggi
3
Leadership
Tanggung jawab yang tinggi, disiplin yang tinggi, bisa melayani bawahan, teman, dan atasan, loyalitas yang tinggi, disiplin
4
Visioner
Berpikir masa depan, optimisme hidup sukses
5
Inisiator
Banyak inisiatif, kreatif, dan inovatif
6
Sosialis/Komunikatif
Kepekaan terhadap lingkungan, rasa iba, tenggang rasa, kepedulian yang tinggi, inklusif
6
Spiritualis
Kekuatan tenaga dan hati, beribadah kepada Tuhan (vertikal), membedakan mana yang haq dan yang batil

IV. STUDI ANALISIS KEBERHASILAN-KEBERHASILAN SELF-GREATNESS BASED LEARNING TERHADAP PEMBENTUKAN PRIBADI EXCELLENT
Setelah menjabarkan beberapa teori tentang self-greatness based learning, pribadi excellent dan entrepreneur, maka penulis menganalisis keberhasilan-keberhasilan empiris dari pembelajaran berbasis self-greatness terhadap pembentukan kedua karakteristik pribadi tersebut. Secara integral, keberhasilan-keberhasilan ini lebih mengacu pada pengaruh pembelajaran berbasis self-greatness terhadap komparasi kedua watak pribadi ini, yaitu excellent dan entrepeneur. Hal ini disebabkan watak dan ciri pembawaan kedua pribadi tersebut hampir tidak jauh berbeda, yaitu dominan mengacu pada sifat-sifat kepercayaan diri, proaktif, gairah hidup, ketahanan fisik dan emosional, kemampuan loyalitas (bekerja secara cermat dan terencana), visioner, kepemimpinan, dan kekuatan nilai-nilai spiritualitas. Khususnya pada pembentukan pribadi excellent, karena entrepreneur itu sendiri—sebagaimana sudah dibahas sebelumnya—sebenarnya sudah masuk pada katagori keceradasan pribadi excellent, yaitu kecerdasan intra-personal (intrapersonal intelligence). Dari sini akan dianalisis secara teoritis pengaruh self-greatness based learning terhadap peningkatan ciri pembawaan dan karaktersitik umum kedua pribadi tersebut, dalam konteks strategi belajar dan motode serta teknik pengajarannya. Beberapa pengaruh self-greatness based learning terhadap pembentukan pribadi excellent dan entrepreneur tersebut antara lain:
1. Bersikap Proaktif pada Tantangan Masa Depan
Salah satu bentuk keberhasilan strategi belajar berbasis self-greatness dalam membentuk watak keungguan diri adalah pertumbuhan sikap proaktif pada tantangan masa depan. Sebagaimana disebutkan pada bab terdahulu, bahwa salah satu karakter/ciri pribadi unggul dan entrepreneur adalah banyak inisiatif dan mampu memecahkan masalah secara tepat, tidak mudah reaktif, dan tidak emosional pada tantangan-tantangan tertentu. Ciri pribadi unggul dan entrepreneur ini sebenarnya telah diupayakan pengembangannya melalui strategi belajar berbasis self-greatness.
Misalnya dengan usaha pramukawan-pramukawati dalam mempersiapkan diri dengan membuat daftar pelajaran dan aktivitas secara intensif dan simultan, pramukawan-pramukawati pada hakikatnya telah dilatih untuk siap menghadapi tantangan yang akan dihadapi (masa depan). Pramukawan-pramukawati yang membuat perencanaan-perencanaan terlebih dahulu sebelum melaksanakan kegiatan tertentu pada gilirannya meminimalisir kepekaan emosi mereka dalam menghadapi segala masalah. Mereka akan merasa lebih siap secara mental, karena dibantu dengan perencanaan-perencanaan yang akan membimbingnya memecahkan masalah dan menghadapi tantangan tersebut.
Secara praksis, pramukawan-pramukawati telah mampu menciptakan peluang besar melalui perencanaan-perencanaan dan persiapan diri tersebut untuk melewati segala keterbatasan masa depan. Hal ini sangat terkait erat dengan ketahanan emosi pramukawan-pramukawati yang sudah teruji melalui tantangan-tantangan kecil di sekolah. Bagaimana pramukawan-pramukawati ditugaskan untuk presentasi, diskusi, dan sebagainya, justru akan membuat mereka merasa tertantang untuk menghadapi masalah yang lebih besar. Sehingga mereka tidak mudah emosional jika dihadapkan pada masalah serupa.
Selain itu, sikap proaktif terhadap tantangan masa depan diwujudkan melalui strategi belajar afektif (affective strategy), yaitu dengan latihan-latihan melakukan relaksasi, pernafasan, meditasi, dan menggunakan humor (lowering your anxienty), atau dengan membuat statemen/pernyataan kesiapan diri dan berusaha menempuh segala resiko dari sikap pernyataan tersebut (encouraging yourself), atau dengan latihan memahami bahasa tubuh, membuat daftar-daftar, dan mendiskusikan tantangan tersebut dengan orang lain (taking your emotional temperature). Ketiga strategi ini jelas mengarah pada usaha menstabilkan diri dan mental secara intesif. Sebagaimana disebutkan, ada banyak usaha melatih emosi dan mental pramukawan-pramukawati agar siap menghadapi masalah dan tantangan masa depan . Strategi di atas sangat relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari karena sifatnya yang non-formal dan fleksibel, sehingga akan lebih mudah untuk dilanjutkan melalui strategi-strategi pengembangan lain di masa yang akan datang. Pramukawan-pramukawati akan merasa enjoyful dan tetap berpikir secara jernih saat dihadapkan pada tantangan-tantangan masa depan.
Sedangkan dalam konteks pengajaran berbasis self-greatness, sikap proaktif dapat ditumbuhkan melalui teknik diskusi dan metode conditioning. Dalam teknik diskusi, pramukawan-pramukawati ditekankan untuk mengembangkan aktivitas pertukaran ide dan konsep dengan pembina mereka dalam bentuk diskusi. Praktik diskusi ini mempunyai indikator agar pramukawan-pramukawati mampu menfungsikan seluruh pikiran dan kerja otak dan dapat melampaui keterbatasan-keterbatasan emosi dalam diri. Kedua indikator ini akan mampu dicapai jika pelaksanaan teknik pengajaran juga direalisasikan dengan tepat sasaran. Pramukawan-pramukawati yang dapat memaksimalkan praktik diskusi tersebut pada akhirnya juga akan berhasil mencapai indikator yang telah ditetapkan secara utuh.
Kaitannya dengan sikap proaktif ini, pramukawan-pramukawati yang sudah mampu menfungsikan seluruh pikiran dan kerja otak dalam aktivitas pembelajaran dan mampu melampaui keterbatasan emosi dalam diri melalui praktik diskusi secara otomatis akan membuat mereka merasa tenang, tidak mudah emosional, dan berusaha terus mencari pemecahan-pemecahan solutif untuk menembus tantangan masa depan. Karena bagaimanapun, tantangan masa depan tidak saja membutuhkan ketahanan emosi diri, tapi juga menuntut adanya solusi sistematis dan terencana yang tentunya dapat diciptakan melalui fungsionalisasi seluruh pikiran dan kerja otak secara maksimal.
Apalagi dalam teknik pengajaran berbasis self-greatness, target maksimal yang direncanakan adalah agar pramukawan-pramukawati dapat menghadapi tantangan-tantangan masa depan. Target ini jelas mendeskripsikan adanya relevansi signifikan antara strategi pembelajaran berbasis self-greatness dengan usaha peningkatan watak keunggulan diri pramukawan-pramukawati, khususnya dalam menumbuhkan sikap proaktif dalam menghadapi tantangan masa depan.

2. Meningkatkan Gairah Hidup di Masa Depan
Indikasi keberhasilan pembelajaran berbasis self-greatness lain yang dapat menumbuhkembangkan watak keunggulan diri dan entrepreneur adalah peningkatan gairah hidup di masa depan. Gairah ini merefleksikan semangat dan motivasi seseorang dalam mencapai kesuksesan masa depan dengan cepat dan simultan. Artinya, pramukawan-pramukawati mempunyai gairah hidup di masa depan berarti juga mempunyai semangat hidup yang meningkat secara terus menerus. Keberlangsungan semangat dalam diri pramukawan-pramukawati pada akhirnya akan membentuk karakter keunggulan diri dan entrepreneur dalam jiwa mereka yang tidak akan mudah luntur.
Dalam pembelajaran berbasis self-greatness, gairah tersebut telah (coba) ditingkatkan secara berkelanjutan melalui strategi-strategi belajarnya yang aplikatif dan available. Salah satu strategi belajar yang mengarah pada peningkatan gairah hidup ini adalah terletak pada strategi tekanan “peningkatan motivasi diri” pramukawan-pramukawati, yaitu antara lain: pertama, meyakini akan kesuksesan dan kemandirian di masa depan sangat tergantung pada usaha sendiri. Kedua, memaksimalkan pengembangan pelajaran dan bakat yang disenangi. Ketiga, berusaha membangun motivasi diri secara intens dengan melihat keistimewaan orang yang lebih pintar. Keempat, menghargai seluruh hasil dari usaha belajar. Kelima, menciptakan mimpi-mimpi akan target yang akan dicapai untuk menciptakan rasa tidak puas. Keenam, mendesain suasana belajar yang menyenangkan, dan ketujuh, strategi pengembangan diri (affective strategy).
Meyakini akan kesuksesan dan kemandirian masa depan sangat tergantung pada usaha diri sendiri. Pramukawan-pramukawati yang mampu menanamkan keyakinan tersebut akan senantiasa mempersepsikan kesuksesan sebagai refleksi atas perjalanan hidup dan kemampuan diri pribadi saat itu. Salah satu tanda pribadi unggul, pramukawan-pramukawati yang merasakan keterbatasan kemampuan dirinya maka ia akan segera melakukan upaya-upaya pengembangan diri agar tetap survive di masa depan.
Memaksimalkan pengembangan pelajaran dan bakat yang disenangi. Pramukawan-pramukawati yang ingin tetap bertahan dan mandiri di masa depan akan mempertahankan dan mempertaruhkan segala bakat dan potensi yang dimilikinya saat itu. Artinya, ia akan menjadikan bakat dan potensi sebagai penopang kehidupan mereka kelak. Mereka akan meyakini bahwa hanya dengan bakat dan potensi, segala keterbatasan-keterbatasan dalam dirinya untuk tetap bergairah di masa depan akan segera dilampaui secara tuntas.
Berusaha membangun motivasi diri secara intens dengan melihat keistimewaan orang yang lebih pintar. Hasil strategi ini secara praksis sangat jelas dan terbaca. Bahwa pramukawan-pramukawati yang ingin unggul di masa depan, harus tetap mempertahankan gairah hidupnya dengan terus berpandangan pada keunggulan-keunggulan orang lain yang melebihi potensi yang dimiliki mereka. Hal ini pada akhirnya akan menjadikan pramukawan-pramukawati untuk tetap bersemangat dalam mengarungi kehidupannya kelak meskipun akan menghadapi segala persoalan dan hambatan diri.
Menghargai seluruh hasil dari usaha belajar. Tujuannya—terkait dengan peningkatan gairah hidup di masa depan—adalah agar pramukawan-pramukawati terus bersyukur dan melihat hasil usaha sebagai langkah pertama menuju kesuksesan masa depan. Mereka akan terus menghargai seluruh hasil yang diperoleh sebagai evaluasi untuk mendapatkan yang lebih baik. Jika semangat ini terus ditanamkan, maka pramukawan-pramukawati pada akhirnya akan tetap memiliki gairah hidup sukses, mandiri (entrepreneur), dan unggul di masa depan. Sebaliknya orang yang pandai dan cerdas sekalipun, namun tidak mampu menghargai segala hasil usaha justru pada akhirnya akan menyerah dan putus asa saat menghadapi satu masalah saja.
Menciptakan mimpi-mimpi akan target yang akan dicapai untuk membentuk rasa tidak puas. Ketidakpuasan dalam diri pramukawan-pramukawati pada gilirannya akan mendorong mereka untuk terus belajar, belajar, dan belajar. Hampir tidak berbeda jauh dengan strategi sebelumnya bahwa pramukawan-pramukawati yang tidak merasa puas pada hasil usaha akan terus menganggap kesuksesan sebagai keinginan dan hasrat yang jauh dan sulit dicapai. Keinginan dan hasrat itulah yang sering disebut dengan mimpi. Pramukawan-pramukawati unggul dan bermental wirausaha tentu mempunyai mimpi besar dalam hidupnya, sehingga kendati dia telah mencapai kesuksesan berkali-kali—menurut orang lain—namun ia tetap menganggapnya hanya sebatas tangga-tangga awal dan motivasi diri untuk menggapai mimpinya.
Mendesain suasana belajar yang menyenangkan. Sebagaimana diketahui bahwa gairah hidup seseorang, terutama pramukawan-pramukawati juga tergantung pada desain tempat dan suasana belajar yang enjoyful learning. Suasana tersebut pada akhirnya akan terus mempertahankan semangat hidup pramukawan-pramukawati dalam proses pengembangan diri. Desain suasana itu juga tergantung pada minat pramukawan-pramukawati. Pramukawan-pramukawati SD, misalnya, akan berbeda dalam mendesain tempat belajarnya dengan pramukawan-pramukawati SLTP dan SMU. Ini menunjukkan bahwa suasana yang menyenangkan akan selalu berubah-ubah sesuai dengan perubahan mental dan psikologi pramukawan-pramukawati. Usaha untuk menformat suasana dan tempat belajar sejak diri inilah yang nantinya menciptakan kebiasaan pramukawan-pramukawati melakukan hal serupa hingga berinjak dewasa. Sehingga pramukawan-pramukawati tetap mampu menciptakan gairah hidup di masa depan karena didukung dengan suasana belajar yang menyenangkan.
Sedangkan strategi terakhir adalah strategi pengembangan (affective strategy). Di mana, strategi ini lebih berupa latihan diri untuk mempertahankan gairah belajar pramukawan-pramukawati agar tidak mudah hilang. Usaha strategi belajar ini—sebagaimana pada keterangan sebelumnya—juga dapat dilakukan di sekolah ataupun di luar sekolah agar memungkinkan pramukawan-pramukawati mempunyai strategi belajar permanen dan bermanfaat bagi masa depan.
Selain itu, dalam pengajaran berbasis self-greatness, metode yang paling berpengaruh pada peningkatan gairah kehidupan ini adalah dengan memberikan pujian (reward) kepada pramukawan-pramukawati yang unggul dalam bidang apapun dan memberikan keyakinan penuh pada pramukawan-pramukawati yang masih belum berhasil. Teknik pengajaran ini jelas akan membawa seluruh pramukawan-pramukawati, baik yang unggul ataupun yang masih belum berhasil, pada semangat hidup masa depan. Artinya, pramukawan-pramukawati yang unggul dalam bidang tulis menulis, misalnya, dan pembina memberikannya penghargaan pada akhirnya akan memotivasi dia (pramukawan-pramukawati) untuk mempertahankan secara terus menerus hingga dewasa. Begitu pula dengan pramukawan-pramukawati yang masih belum berhasil dan pembina menanamkan keyakinan padanya, justru akan membuat dia terus berusaha dan tetap menanamkan gairah hidup di masa depan agar lebih baik.
Sedangkan dalam konteks teknik pengajaran, peningkatan gairah hidup dapat dilakukan dengan menggunakan teknik audiovisual, yaitu bagaimana pembina menyajikan cerita-cerita tentang pribadi unggul dan trik-trik untuk meningkatkan gairah dan motivasi diri. Teknik ini dipandang sangat tepat dan mempunyai relevansi signifikan pada peningkatan gairah hidup pramukawan-pramukawati untuk menatap masa depan gemilang, karena pramukawan-pramukawati disajikan tentang metode praktik dan konkrit untuk meningkatkan motivasi diri. Apalagi, sajian visualisasi ini akan lebih menghujamkan semangat untuk hidup sukses di masa depan karena diri pramukawan-pramukawati didorong oleh contoh dan figur konkrit dari pada pribadi-pribadi sukses itu sendiri dalam dunia visual.

3. Memupuk Ketahanan Fisik untuk Masa Depan
Salah satu ciri pribadi (pramukawan-pramukawati) unggul adalah memiliki fisik yang sehat. Karakter/ciri ini diorientasikan agar pramukawan-pramukawati bisa mengembangkan kemampuan dirinya secara terus menerus tanpa ada halangan sakit dan tubuh lemah. Karena bagaimanapun, fisik yang lemah akan memperlambat usaha mereka untuk menjadi unggul. Padahal, salah satu tanda keunggulan diri seseorang adalah kecepatan (quick). Lalu, mampukan seseorang mempercapat diri jika ia selalu mengalami sakit dan cedera?
Dalam strategi belajar berbasis self-greatness, banyak usaha dan strategi yang berupaya membentuk ketahanan tubuhnya tetap langgeng. Beberapa strategi belajar dalam usahanya untuk memupuk fisik sehat ini antara lain: pertama, mengembangkan kemampuan fisik melalui penulisan dan keterampilan khusus. Kedua, berolahraga dan makan secara teratur. Ketiga, block fire. Keempat, meminimalisir kadar kemampuan penuh dalam belajar. Kelima, melakukan relaksasi otot-otot secara berkala saat belajar, dan keenam, strategi inkuiri.
Mengembangkan kemampuan fisik melalui keterampilan khusus. Untuk membentuk tubuh yang sehat tidak selalu tergantung pada makanan dan olah raga yang teratur, tapi juga upaya mengokohkan otot melalui usaha-usaha keterampilan. Apalagi, jika tempat yang dimukimi pramukawan-pramukawati tidak memungkinkan untuk berolahraga, maka alternatif strateginya adalah dengan memaksimalkan gerakan-gerakan otot dan tubuh melalui kerja praktik keterampilan. Selain akan berdampak pada meningkatnya kemampuan, praktik ini juga bisa berimplikasi positif pada kesehatan tubuh pramukawan-pramukawati. Sebagaimana penulisan akhir-akhir ini bahwa seseorang (pramukawan-pramukawati) yang bisa melakukan aktivitas hingga berkeringat, maka akan menurunkan dan mencegah penyakit diabetes. Hal ini jelas menunjukkan bahwa keringat—yang dapat dimunculkan melalui usaha keterampilan—juga turut mampu menghilangkan salah satu penyakit tubuh (diabetes) tersebut.
Berolahraga dan makan secara teratur. Kedua strategi ini tidak bisa dilepaskan dalam upaya peningkatan ketahanan fisik. Pramukawan-pramukawati unggul dan entrepreneur adalah mereka yang mampu menjaga tubuhnya dengan berolahraga dan makan secara teratur. Olah raga diorientasikan agar tubuh mereka dapat luwes dan makan ditujukan agar sel-sel dalam tubuh dapat diperbaharui kembali. Jika pramukawan-pramukawati membiasakan diri untuk hidup dengan berolahraga dan makan secara teratur pada akhirnya turut membantu untuk memupuk ketahanana fisik mereka secara berkelanjutan.
Block fire. Latihan ini—kaitannya dalam usaha pemupukan fisik di masa depan—pada hakikatnya lebih bersifat aktivitas fisik dari pada mental. Artinya, block fire yang didefinisikan sebagai latihan berlari di atas api ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan fisik pramukawan-pramukawati. Pramukawan-pramukawati yang terbiasa berlari di atas api ini nantinya akan berpengaruh signifikan pada ketahanan tubuh seorang pramukawan-pramukawati. Sehingga, latihan ini juga mampu memupuk kesehatan tubuh pramukawan-pramukawati di masa akan datang.
Meminimalisir kadar kemampuan penuh dalam belajar. Pemupukan fisik yang sehat melalui strategi ini lebih bersifat relasional. Artinya, pramukawan-pramukawati dituntut menyeimbangkan antara kemampuan berpikir dan kemampuan fisik dalam belajar. Identifikasi pramukawan-pramukawati unggul dalam hal ini adalah dia yang berhenti belajar saat melihat kondisi fisiknya sudah mulai melemah. Pada saat demikian, dia berpikir bahwa kemampuan fisiknya masih akan digunakan untuk proses belajar selanjutnya. Minimalisir yang dimaksud di sini adalah kemampuan pramukawan-pramukawati membagi waktu istirahat dan belajar sesuai dengan kemampuan fisiknya karena bagaimanapun proses berpikir (belajar) juga sangat berpengaruh besar pada ketahanan fisik pramukawan-pramukawati.
Melakukan relaksasi otot-otot secara berkala saat belajar. Strategi ini sangat cocok digunakan dalam waktu kapanpun. Artinya, relaksasi otot-otot hanya berkisar pada gerakan-gerakan kecil untuk meluweskan kembali otot-otot yang tegang saat belajar. Dalam konteks strategi belajar berbasis self-greatness, relaksasi otot ini masuk dalam strategi pengembangan (affective strategy) yang memungkinkan pramukawan-pramukawati dapat terus belajar dan berusaha menjadi pribadi excellent dengan didukung oleh fisik yang sehat.
Inquiry strategy. Strategi belajar berbasis penulisan ini tidak jauh berbeda dengan strategi belajar sebelumnya (keterampilan). Di mana, pramukawan-pramukawati excellent tidak saja mengambil manfaat dari hasil penulisan, namun juga mengambil sisi positif dari penulisan tersebut untuk merenggangkan otot-ototnya. Dalam strategi inkuiri, ada usaha yang disebut be yourself in working research. Usaha ini merupakan bagian dari strategi inkuiri yang diorientasikan tidak saja untuk mempromosikan penciptaan karya dan keterampilan, tapi juga untuk melatih ketahanan otot secara intensif. Penulisan yang menganjurkan adanya kemandirian individu untuk bekerja tersebut akan berpengaruh pada aspek fisik pramukawan-pramukawati. bagaimana ketahanan fisik pramukawan-pramukawati dilatih melalui kerja penulisan secara individu.
Sedangkan dalam pengajaran berbasis self-greatness, pembina mengkhususkan pada metode langsung (direct method) dengan melaksanakan praktik kerja dan olah raga lapangan bersama pramukawan-pramukawati, melakukan uji coba lapangan, memberikan contoh langsung secara teknis, dan mengulang-ulang pelaksanaa teknis pada teori yang akan dipraktekkan. Dalam hal ini, pembina dapat menugaskan pramukawan-pramukawati untuk melakukan relaksasi otot-otot dan olah raga di lapangan untuk memupuk ketahanan fisik mereka di masa depan nanti.
Dalam teknik pengajaran, pembina dapat menggunakan teknik demonstrasi (demonstration), yaitu dengan menugaskan pramukawan-pramukawati untuk memakai alat-alat olah raga dalam praktik lapangan. Alat-alat olah raga ini akan membantu pramukawan-pramukawati untuk meningkatkan fisik dalam latihan olah raga. Pembina yang mampu menggunakan teknik ini dalam setiap program olah raga akan menciptakan peluang besar untuk memaksimalkan pemupukan fisik yang sehat terhadap pramukawan-pramukawati di masa depan. Karena bagaimanapun latihan olahraga sejak dini dengan menggunakan alat-alat olahraga akan mampu mempertahankan fisik pramukawan-pramukawati untuk mengembangkan dirinya secara berkelanjutan.
Semua statemen di atas jelas menunjukkan adanya signifikansi antara pengaruh pembelajaran berbasis self-greatness bagi pemupukan fisik pramukawan-pramukawati di masa yang akan datang.

4. Dapat Membedakan yang Haq dan Bathil
Ciri pribadi unggul lain adalah bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pramukawan-pramukawati excellenti adalah dia yang mampu menghujamkan nilai-nilai ketuhanan (spiritual) dalam kehidupan nyata dan mampu membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Sedangkan keberhasilan strategi belajar berbasis self-greatness terletak pada manifestasi spiritualitas yang ke dua ini. Di mana, strategi belajar yang digunakan menggunakan strategi belajar spiritual (spiritual motivation strategy). Strategi spiritual meliputi: pertama, knowing yourself with fundamental questions (memahami diri sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan fundamental). Kedua, appropriating yourself with others (menghargai diri sendiri dengan orang lain), dan ketiga, dovouting to God (beribadah pada Tuhan).
Memahami diri sendiri dengan pertanyaan fundamental. Beberapa bentuk pertanyaan tersebut adalah kenapa (why), bagaimana jika (how if), di mana saya (where am I), kenapa saya diciptakan di sini (why am I created here). Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada akhirnya akan mampu menanamkan kesadaran pramukawan-pramukawati untuk memaknai hidup dan kehidupan serta tugasnya sebagai makhluk sempurna di muka bumi. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan fundamental di atas akan menumbuhkan pengetahuan pramukawan-pramukawati tentang eksistensi Tuhan yang sebenarnya; bagaimana Tuhan menciptakannya dan mengatur segala persoalan umat manusia. Hal ini sejalan dengan hadits Nabi Muhammad Saw. “Man ‘arafa nafsahu ‘arafa rabbahu” (Barangsiapa yang mengenal keberadaan dirinya, maka dia ‘akan’ mengenal eksistensi Tuhannya). Setelah pramukawan-pramukawati dapat menjawab dan menghayati pertanyaan-pertanyaan fundamental itu, maka ia secara otomatis akan mampu membedakan segala sesuatu yang dilarang dan diperbolehkan oleh Tuhannya. Hal inilah yang akan menjadi modal dasar pramukawan-pramukawati untuk menjadi pribadi unggul dan excellent di masa depan.
Menghargai diri sendiri dan orang lain. Bentuk strategi belajar pada tahap ini adalah melatih rasa iba, membiasakan mengucapkan rasa syukur, meningkatkan dedikasi, komitmen, dan kepercayaan pada orang lain yang baik, serta mempunyai visi jangka panjang untuk membedakan mana yang haq dan batil. Pramukawan-pramukawati juga harus dibiasakan untuk melatih rasa iba terhadap orang lain. Karena dengan rasa iba ini, pramukawan-pramukawati akan mampu melihat orang lain yang harus ditolong dan yang tidak perlu ditolong. Selain itu, pramukawan-pramukawati harus dilatih untuk membiasakan mengucapkan rasa syukur terhadap sesuatu agar mampu membedakan mana yang harus disyukuri dan yang tidak. Dan juga meningkatkan dedikasi, komitmen, dan kepercayaan pada orang lain yang baik tentang bagaimana pramukawan-pramukawati harus mampu melayani bawahan atau menjadi pimpinan dalam bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar. Pramukawan-pramukawati dalam konteks ini kemudian akan terbiasa membedakan mana yang berhak menerima kepercayaan dan mana yang tidak berhak. Selain itu, bentuk strategi belajar yang lain adalah dengan menciptakan visi jangka panjang yang tepat sasaran. Artinya, pramukawan-pramukawati yang sudah mampu untuk melihat diri pribadi secara utuh akan memotivasi dia untuk menyeleksi visi dan target yang sesuai bagi masa depannya.
Beribadah kepada Tuhan. Bentuk strateginya dapat berupa konsisten terhadap ibadah dan memperkuat kekuatan tenaga dan hati. Dalam aktivitas sholat misalnya, pramukawan-pramukawati pada akhirnya juga akan merasakan pengaruh metafisik kegiatan ritual tersebut dalam kehidupan nyata. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Saw. bahwa shalat “tanha ‘an al-fahsya wa al-munkar”. Bahwa, implikasi shalat dalam kehidupan nyata adalah pencegahan diri dari hal-hal yang buruk dan tercela (dilarang). Implikasi ini jelas menunjukkan bahwa shalat secara tidak langsung akan mencegah ia dari hal-hal yang diharamkan (batil) dan juga tentunya akan mendorong keinginan untuk melakukan hal-hal yang dihalalkan (haq). Selain itu, semakin orang mampu meningkatkan intensitas ibadah setiap hari, maka di situ pula orang tersebut telah mampu membedakan kebenaran dan kebatilan di dunia dengan modal banteng kekuatan tenaga dan hari. Artinya, kekuatan tenaga dan hati sebagai implikasi positif dari ibadah akan memperkuat pertahanan imam dari hal-hal yang dilarang (batil) dan memudahkan pramukawan-pramukawati untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar (haq).
Sedangkan metode dan teknik pengajaran berbasis self-greatness yang dominan berpengaruh pada kemampuan pramukawan-pramukawati untuk membedakan mana yang haq dan bathil adalah metode spiritual dan teknik audiovisual. Untuk metode spiritual, pembina ditempatkan sebagai figur dan teladan bagi pramukawan-pramukawati. Tentunya figur dan teladan sentral yang diemban pembina dilandasi oleh sikap pembina yang selalu memberikan contoh yang baik dan menjauhi perilaku-perilaku yang tidak baik. Dengan metode pembina sentris semacam ini justru memudahkan pramukawan-pramukawati untuk membedakan perilaku dan tindakan yang baik dan buruk dalam dunia sosial. Apalagi jika pembina memperkuat keyakinan mereka dengan upaya penggugahan hati secara berkelanjutan, maka pramukawan-pramukawati dengan sendirinya akan dapat membedakan kebenaran dan keburukan tanpa harus dibimbing.
Bentuk metode lain dalam metode spiritual ini adalah dengan menetapkan silent reading Qur’an programe dan jadwal shalat wajib berjamaah dan shalat sunnah di sekolah. Kedua bentuk metode ini serta merta memperkuat pada metode sebelumnya, yaitu penghayatan dan pemaknaan kehidupan secara substansial.
Sedangkan dalam teknik pengajaran, self-greatness based learning mempunyai teknik audiovisual yang dalam tataran pelaksanaannya sangat mendukung terhadap penuntutan kemampuan pramukawan-pramukawati membedakan mana yang haq dan yang bathil dilakukan di masa depan. Teknik audiovisual ini berupa penyajian beberapa program spiritual motivation atau kisah-kisah rekonstruksi dokumenter yang menceritakan hikmah-hikmah perilaku baik dan buruk bagi masa depan pramukawan-pramukawati. Teknik visualisasi ini secara praksis mungkin merupakan teknik paling berpengaruh pada kemampuan membedakan terhadap sesuatu, karena selain pramukawan-pramukawati akan dihadapkan pada contoh konkrit hal-hal yang buruk dan yang baik, visualisasi ini biasanya dominan disenangi oleh pramukawan-pramukawati-pramukawan-pramukawati. Sehingga, pembina mudah mentransfer pengetahuan tentang berbagai hal yang haq dan bathil kepada pramukawan-pramukawati karena didukung oleh media tersebut.

5. Mengembangkan Kepercayaan Diri yang Kokoh bagi Masa Depan
Aspek lain yang menjadi keberhasilan strategi belajar berbasis self-greatness dalam upaya pembentukan pribadi excellent dan entrepreneur adalah terletak pada ranah kepercayaan diri pramukawan-pramukawati. Sebagaimana diketahui bahwa percaya diri merupakan ciri pokok seorang pribadi unggul dan wirausaha dalam menghadapi masa depan gemilang. Dalam konteks inilah strategi belajar berbasis self-greatness telah melakukan upaya pengokohan kepercayaan diri kepada pramukawan-pramukawati sebagai bekal menjadi pribadi unggul. Apalagi, dalam konteks pembelajaran, aspek percaya diri merupakan salah satu tekanan utama strategi belajar berbasis self-greatness ini. Beberapa strategi yang berelevansi cukup kuat terhadap pengokohan kepercayaan diri ini adalah terbagi dua pokok strategi yaitu affective strategy dan social strategy.
Affective strategy. Strategi ini lebih bersifat latihan emosi diri pramukawan-pramukawati, yaitu lowering your anxienty dengan melakukan relaksasi, pernafasan, meditasi, dan menggunakan humor. Semua bentuk strategi ini memang mempunyai orientasi agar pramukawan-pramukawati dapat mengelola emosi dan perasaan diri melalui latihan-latihan pribadi. Pramukawan-pramukawati yang mampu mengatur pernafasan dengan meditasi, misalnya, akan memberikan ketenangan jiwa untuk menghadapi segala tantangan dan kompetisi hidup. Begitu pula pramukawan-pramukawati yang suka humor (humoris) cenderung selalu menikmati tantangan sebagai hal yang wajar dan harus dihadapi dengan santai, tapi serius. Bentuk strategi kedua adalah encouraging your self, yaitu dengan membuat statemen positif dan menempuh resiko dengan bijak. Yang dimaksud dengan statemen positif di sini adalah pernyataan tegas (baik tulis, lisan, ataupun tersirat) dari pramukawan-pramukawati dalam menentukan segala tindakan yang akan dilakukan saat menerima tantangan. Bagaimanapun statemen ini tetap menjadi standar usaha pramukawan-pramukawati untuk meningkatkan kepercayaan pada kemampuan dirinya. Hal itu juga terlihat jika ada pramukawan-pramukawati yang mampu menempuh resiko dengan bijak, maka secara tidak langsung ia telah berupaya meningkatkan kepercayaan diri atau bahkan kemampuan melewati resiko merupakan tanda kepercayaan diri pramukawan-pramukawati. Strategi belajar ketiga adalah taking your emotional temperature, yaitu dengan mendengarkan tubuhmu, menggunakan daftar, menulis di diary tentang pribadi excellent, dan mendiskusikan perasaan dengan orang lain. Yang dimaksud mendengarkan tubuh adalah memahami sikap, mental, dan performance tubuh. Pramukawan-pramukawati yang mampu memahami ketiga hal tersebut secara sempurna, maka mereka juga akan mampu mengembangkan dan mengontrol emosi pribadi agar memiliki percaya diri yang kuat. Kemudian, pramukawan-pramukawati yang sudah mampu membuat daftar aktivitas dan keputusan tindakan-tindakan sehari-hari akan menjadikan ia lebih percaya diri pada tantangan, karena sebelumnya ia telah berusaha mendeskripsikan dan memprediksi tantangan apa saja yang akan dihadapi. Sedangkan pramukawan-pramukawati yang terbiasa menulis diary tentang pribadi unggul, pribadi entrepreneur atau tokoh berpengaruh di bidangnya masing-masing pada saatnya akan menjadikan ia lebih percaya diri. Kepercayaan diri ini mucul karena ia bisa belajar dan memahami bahwa pribadi unggul yang ditulisnya di diary juga mempunyai ciri kepercayaan diri untuk menghadapi masa depan dan selama mempengaruhi perjalanan menuju kesuksesan. Begitu juga pramukawan-pramukawati yang terbiasa mendiskusikan perasaan dengan orang lain akan berimplikasi positif pada peningkatan kepercayaan diri mereka. Diskusi/mencurahkan perasaan dengan orang lain tentunya akan mempermudah pramukawan-pramukawati memperoleh statemen dan motivasi untuk terus percaya diri. Statemen dan motivasi ini diperoleh dari teman/orang yang dipilih untuk menjadi tempat arahan tersebut.
Strategi belajar kedua adalah social strategy, yaitu dapat diklasifikasi menjadi tiga strategi aplikatif yaitu asking questions, cooperating with others, dan emphatizing with others. Bentuk strategi belajar dengan menggunakan asking questions, yaitu bertanya untuk klasifikasi atau varifikasi. Pramukawan-pramukawati yang mampu bertanya untuk kedua tujuan tersebut pada akhirnya akan menjadikan kepercayaan diri mereka menjadi kuat dan kokoh. Artinya, fungsi bertanya di sini dimaksudkan agar pramukawan-pramukawati memperoleh pengetahuan tentang trik-trik dan usaha-usaha meningkatkan kepercayaan diri. Begitu juga bentuk strategi kedua adalah cooperating with others, yang dilaksanakan melalui bekerjasama dengan teman sebaya, dan memahami pikiran dan perasaan oran lain. Sepertihalnya bentuk strategi pertama, strategi ini dimaksudkan agar pramukawan-pramukawati yang sudah memperoleh pengetahuan melalui memahami karakter orang lain dapat memanfaatkannya secara maksimal, khususnya dalam memahami bagaimana orang lain meningkatkan kepercayaan diri secara simultan. Bentuk ketiga dari strategi sosial ini adalah emphatizing with others, yang dilaksanakan dalam bentuk pengembangan pemahaman kultural (cultural understanding) dan bekerja sama dengan pramukawan-pramukawati lain yang pandai. Pramukawan-pramukawati yang sudah mampu berkerja sama secara positif dengan pramukawan-pramukawati lain yang pandai pada akhirnya mendorong dia untuk menjadi pandai pula. Kaitannya dengan peningkatan kepercayaan diri, motivasi untukmenjadi pribadi excellent dan pandai sebenarnya akan memperkaya pengetahuan pramukawan-pramukawati tentang bagaimana untuk menjadi pribadi pandai tersebut. Kerena bagaimanapun, ssalah satu modal utama untuk menjadi sisw pandai dan excellent adalah mempunyai kepercayaan diri yang kuat dan kokoh untuk menghadapi tantangan masa depan.
Sedangkan dalam metode pengajaran berbasis self-greatness yang dapat mengembangkan kepercayaan diri adalah metode langsung (direct method) dengan menugaskan pramukawan-pramukawati untuk melakukan presentasi dan diskusi, memberikan contoh lansung secara teknis, dan mengulang-ulang pelaksanaan teknis pada teori yang akan dipraktikkan. Penugasan pramukawan-pramukawati dalam melakukan presentasi dan diskusi pada akhirnya akan melatih pramukawan-pramukawati untuk percaya diri dalam berbicara di depan publik. Selain itu, pembina yang memberikan contoh langsung secara teknis tentang usaha-usaha untuk meningkatkan keunggulan diri dan mental entrepreneur. Salah satu contoh teknis usaha-usaha untuk meningkatkan keunggulan diri pramukawan-pramukawati tersebut adalah menampakkan performance yang baik dan fantastis saat menerangkan mata pelajaran, atau dapat diwujudkan dengan memberikan contoh sosok figur teladan dengan sikap kepercayaan diri yang kuat kepada pramukawan-pramukawati. Dengan demikian, pembina yang mampu melaksanakan strategi ini dengan tepat, maka secara langsung akan berdampak pada usaha peningkatan kepercayaan diri pramukawan-pramukawati. Sedangkan dalam masalah teknik pengulangan pelaksanaan teknis pada teori yang akan dipraktikkan, pembina dapat mengulang-ulang dan menetapkan peran sebagai figur sentral bagi pramukawan-pramukawati secara terus menerus akan semakin memperkuat rasa kepercayaan diri mereka untuk menghadapi tantangan masa depan.
Dalam tataran teknik pengajaran berbasis self-greatness, teknik yang paling tepat dan mempunyai pengaruh signifikan pada pengembangan kepercayaan diri pramukawan-pramukawati adalah discussion (teknik diskusi) dengan cara mengembangkan aktivitas pertukaran ide dan konsep antara pembina dan pramukawan-pramukawati dalam bentuk kelompok diskusi. Secara praksis, diskusi ini pada akhirnya akan melatih pramukawan-pramukawati untuk bersikap percaya diri di depan pembina, baik untuk menyampaikan pendapat, konsep, ide, usulan, dan argumentasi kepada pembina.
Dengan demikian, strategi belajar dan pengajaran berbasis self-greatness mempunyai pengaruh signifikan dalam peningkatan watak keunggulan diri dan entrepreneur pramukawan-pramukawati, khususnya dalam pengembangan kepercayaan diri yang kokoh untuk masa depan.

6. Terbiasa Bekerja secara Cermat, Sistematis, dan Terencana di Masa Depan
Aspek lain dari peningkatan keunggulan diri adalah mempunyai disiplin yang tinggi. Pembelajaran berbasis self-greatness—secara teknis operasional—sebenarnya telah berupaya dalam meningkatkan salah satu manifestasi kedisiplinan pramukawan-pramukawati di masa depan, yaitu terbiasa bekerja secara cermat, sistematis, dan terencana. Kebiasaan ini hanya dapat diperoleh oleh pramukawan-pramukawati dengan bermodal kedisiplinan diri yang tinggi. Dalam strategi belajar berbasis self-greatness, strategi yang paling dominan dalam menumbuhkembangkan kebiasaan ini adalah pertama, membuat jadwal (schedule) aktivitas sehari-hari.
Kedua, konsisten terhadap waktu yang dijadwalkan. Sebenarnya, bentuk strategi kedua ini sangat cocok dengan definisi disiplin itu sendiri. Namun, pengaruh strategi kedua tersebut terhadap kebiasaan pramukawan-pramukawati bekerja secara cermat, sistematis, dan terencana terletak pada keteraturan pramukawan-pramukawati beraktivitas sesuai dengan jadwal. Aktivitas ini cenderung menciptakan suatu kebiasaan untuk bertindak dan bekerja secara sistematis dan cermat pula. Begitu juga pengaruh strategi ini terhadap kebiasaan pramukawan-pramukawati untuk bekerja secara terencana dan matang. Di mana, konsistensi waktu akan memudahkan pramukawan-pramukawati untuk membuat perencanaan-perencanaan tindakan yang akan dilakukan. Apalagi, konsistensi waktu sebenarnya telah menunjukkan bahwa pramukawan-pramukawati terlatih untuk bekerja dengan perencanaan waktu yang telah dibuatnya.
Ketiga, memasang target pencapaian dengan schedule tersebut. Ini juga menunjukkan adanya koreksi signifikan strategi belajar berbasis self-greatness terhadap peningkatan kedisiplinan pramukawan-pramukawati. seorang pramukawan-pramukawati yang memasang target pencapaian hasil usaha dari jadwal yang telah ditentukan itu secara praksis. Telah melatih pramukawan-pramukawati untuk senantiasa bekerja secara cermat dan terencana. Di mana, target itu sendiri menjadi pedoman usaha pramukawan-pramukawati agar mampu menjalani segala aktivitas dengan tepat sasaran dan tujuan yang jelas.
Keempat, berpartisipasi aktif dalam pencapaian target dan tujuan yang akan dicapai pada akhirnya menuntut pramukawan-pramukawati untuk melakukan aktivitas secara sistematis. Karena bagaimanapun, gairah untuk berpartisipasi akan menjadikan pramukawan-pramukawati untuk memanfaatkan waktu sebaik dan seefektif mungkin sesuai dengan rencana semula.
Kelima, mengapresiasi reward dan punishment. Kedua tindakan ini merupakan aplikasi konkrit dalam mengukur aktivitas pramukawan-pramukawati dan hasil yang diperoleh selama belajar. Pramukawan-pramukawati yang mampu mengapresiasi kedua tindakan ini akan berpengaruh pada kekuatan motivasi diri mereka untuk selalu berdisiplin. Kedisiplinan yang dilakukan pramukawan-pramukawati pada hakikatnya telah menunjukkan semangat mereka untuk menghargai reward dan meminimalisir punishment. Maka dari itu, tak salah jika reward dan punishment dianggap sebagai bentuk konkrit sikap kedisiplinan pramukawan-pramukawati.
Keenam, menaati sistem dan peraturan sekolah sebagai bentuk usaha kedisiplinan diri. Pramukawan-pramukawati unggul adalah mereka yang mampu menaati sistem dan peraturan sekolah sebagai latihan untuk mendisiplinkan diri. Mereka juga akan menganggap bahwa sistem tersebut merupakan pedoman diri untuk menjadi pramukawan-pramukawati yang berdisiplin secara total. Sistem yang mampu memenuhi dan mempunyai kemampuan perasaan ini akan senanatiasa beraktivitas secara sistematis dan cermat karena didukung oleh peraturan sekolah yang berorientasi pada upaya menertibkan pramukawan-pramukawati. Oleh karena itu, pramukawan-pramukawati tersebut pada akhirnya terbiasa melakukan segala aktivitas sesuai dengan cermat, sistematis dan terencana pula sebagai bukti konkrit tumbuhnya karakter keunggulan diri dan jiwa entrepreneur mereka.
Ketujuh, affective strategy. Sebagaimana diketahui, sikap disiplinan tentunya membutuhkan ketahanan fisik dan mentak yang memadai. Strategi terakhir ini sesungguhnya—secara tak langsung—telah membantu peningkatan jiwa kedisiplinan dalam diri pramukawan-pramukawati dengan modal fisik dan mental yang sehat. Dengan melakukan lowering your anxienty, encouraging yourself, dan taking your emotional temperature, pramukawan-pramukawati akan dituntut untuk melakukan aktivitas secara konsisten dengan modal fisik yang sehat tersebut. Dengan demikian, metode terakhir ini lebih bersifat sekunder, pembantu, dan pendukung secara teknis pada peningkatan kedisiplinan pramukawan-pramukawati di masa depan.
Dengan melihat pada analisa komparasi di atas, self-greatness based learning jelas menaruh perhatian begitu besar pada pembentukan kebiasaan pramukawan-pramukawati dalam bekerja secara sistematis, cemat, dan terencana sebagai salah satu bekal menuju masa depan gemilang.

7. Senantiasa Mengembangkan Potensi Diri untuk Masa Depan
Ciri yang paling mendungkung dari pribadi unggul sebenarnya adalah potensi dan bakat. Pramukawan-pramukawati yang unggul dan entrepreneur, selain mempunyai otak cerdas, dia juga mempunyai potensi dan bakat yang menjadi identitas dirinya sebagai pribadi unggul. Bahkan, jika boleh dikatakan, nama pribadi unggul lebih banyak diletakkan pada pramukawan-pramukawati yang mempunyai potensi dan bakat diri, dari pada pramukawan-pramukawati yang berkemampuan akademik tinggi. Hal ini jelas menandakan bahwa bakat dan potensi menjadi standar minimal seseorang untuk menjadi pribadi unggul. Dalam konteks demikian, self-greatness based learning pada hakikatnya memang lebih menfokuskan pada upaya pembentukan pribadi yang berbakat (talented student) dari pada pribadi cerdas (clever student). Beberapa strategi belajar berbasis self-greatness yang mendukung terhadap pembentukan pribadi-pribadi berbakat tersebut antara lain: pertama, inquiry strategy dengan developing individual thinking skill, increasing capability of method and technique, training to get a result, and be your self in working research. Kedua, affective strategy, affective strategy, yaitu dengan lowering your anxienty, encouraging your self, taking your emotional temperature. Ketiga, menggunakan secara maksimal media pengembangan bakat dan potensi diri. Keempat, menggugah motivasi diri secara intens dengan melihat keistimewaan orang yang lebih pintar. Kelima, mendeteksi dan melejitkan minat dalam diri pramukawan-pramukawati. Keenam, mengembangkan strategi belajar mandiri dalam meningkatkan bakat, potensi, dan keterampilan diri.
Inquiry strategy. Strategi berbasis penulisan ini sebenarnya ditujukan untuk menciptakan pola pikir kreatif dan sistematis terhadap problem sosial (obyek penulisan). Pramukawan-pramukawati yang mampu secara aktif berperan dalam strategi penulisan ini serta merta akan membantu. Mereka dalam pembentukan cara berpikir yang lebih sistematis dan solutif. Pembentukan inilah yang diharapkan dapat membantu pramukawan-pramukawati untuk meningkatkan potensi diri. Apalagi, pramukawan-pramukawati SMK yang setiap saat selalu dikondisikan pada penulisan sesuai dengan jurusan (bakat) yang dimiliki mereka karena didukung oleh strategi belajar berbasis penulisan tersebut.
Affective strategy. Strategi belajar ini memang cocok digunakan dalam setiap tekanan pembelajaran berbasis self-greatness, termasuk pengembangan potensi diri. Dalam konteks ini, affective strategy lebih dimaksudkan untuk membantu pramukawan-pramukawati memperlancar pengembangan bakat dan potensi, khususnya yang berkaitan dengan indikator strategi belajar ini, yaitu dapat meningkatkan rasa percaya diri yang kuat. Di mana, pramukawan-pramukawati yang sudah mempunyai mental percaya diri melalui strategi afektif ini pada gilirannya akan berdampak pada percapatan mental percaya diri. Begitu juga sebaliknya, orang yang berbakat dan berpotensi tinggi selalu percaya akan kemampuan dan kelebihan dirinya. Sehingga ia turut mendukung kemampuan tersebut dengan pengaturan emosi dan psikologi dirinya.
Menggunakan secara maksimal nedia pengembangan bakat dan potensi diri. Media pembelajaran, termasuk di dalamnya media pengembangan bakat dan potensi mempunyai peran signifikan bagi peningkatkan potensi diri sendiri. Media pengembangan potensi sangat berperan untuk memperkuat potensi dan bakat yang dimiliki pramukawan-pramukawati, karena mereka dapat menyalurkan seluruh kemampuannya pada media tersebut. Sehingga media pengembangan bakat menjadi evaluasi dan pengukuran sejauh mana kelebihan dan kekurangan potensi yang dimiliki mereka, seperti halnya seorang pramukawan-pramukawati yang mampu memanfaatkan benar media pengembangan bakat termasuk mading dan majalah sekolah, cenderung lebih cepat perkembangannya dari pada pramukawan-pramukawati lain. Meski dia mempunyai potensi dan standar dan tidak telalu menonjol perkembangannya. Hal ini disebabkan media pengembangan akan menciptakan jaringan dan alat evaluasi pengembangan diri pramukawan-pramukawati. Sehingga, media ini menjadi motivator dan semangat diri terhadap pramukawan-pramukawati untuk terus mengembangkan dan meningkatkan potensi yang dimiliki.
Menggugah motivasi diri secara intens dengan melihat keistimewaan orang yang lebih pintar. Siwa yang mampu menggugah motivasi diri secara intens maka akan lebih mendukung terhadap pengembangan potensinya secara berkelanjutan. Hal ini dikarenakan pramukawan-pramukawati yang mampu membentuk motivasi diri akan terus melejitkan potensi secara simultan untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Begitu pula, dengan strategi belajar pengembangan potensi dengan melihat pada orang yang lebih pintar akan menciptakan semangat dalam diri pramukawan-pramukawati agar mampu menyamai atau bahkan melebihi figur/orang pintar yang dilihatnya. Sehingga ia terus mencari strategi-stretegi baru demi mencapai tujuan tersebut.
Mendeteksi dan melejitkan minat dalam diri pramukawan-pramukawati. Pramukawan-pramukawati yang dapat mendeteksi dan melacak karakter sekaligus potensi yang dimiliki cenderyng akan menfokuskkan pada upaya pngembangan secara intens dan terus menerus. Ia akan bersikeras untuk meningkatkan potensi yang dimiliki sehingga mencapai titik akhir. Akhirnya, pramukawan-pramukawati golongan ini biasanya tidak latah dan tergantung pada orang lain dalam mencapai tujuan yang akan dicapai. Pramukawan-pramukawati tersebut akan tetap fokus pada potensi dan bakat yang disenangi. Meski berada di lingkungan yang sama sekali kurang mendukung terahadap potensi tersebut. Hal ini disebabkan pramukawan-pramukawati telah mampu memahami potensi dan bakat apa yang sesuai dengan minat mereka. Dengan demikian, bentuk strategi ini jelas menunjukkan adanya koreksi signifikan tentang upaya mendeteksi potensi terhadap peningkatan bakat tersebut.
Mengembangkan strategi belajar mandiri dalam meningkatkan bakat, potensi, dan keterampilan diri. Potensi pramukawan-pramukawati hanya dapat diketahui seutuhnya oleh diri pramukawan-pramukawati itu sendiri. Mereka lebih mengetahui potensi dan bakat yang dimiliki dari pada orang lain. Statemen ini merefleksikan bahwa potensi dan bakat lebih banyak berkembang karena dilatarbelakangi faktor dalam diri individu pramukawan-pramukawati dari pada orang lain. Dengan demikian, pramukawan-pramukawati yang mampu menerapkan belajar sendiri, menemukan gaya belajar sendiri cenderung lebih cepat dalam meningkatkan bakatnya dari pada orang lain. Apalagi, konsep belajar mandiri sebenarnya sangat signifikan dalam perkembangan mental dan tingkat inteligensi mereka. Belajar mandiri yang dimaksud di sini adalah belajar dengan menggunakan gaya belajar sendiri dan memahami karakteristik pribadi individu. Tak salah, jika pramukawan-pramukawati yang berhasil menerapkan strategi ini lebih sering mengerti strategi apa yang harus dilakukan untuk dirinya sendiri.

Ketujuh keberhasilan ini merupakan bukti bahwa self-greatness based learning ternyata—secara teoritis praktis—mempunyai implikasi signifikan terhadap pembentukan pribadi excellent dan entrepreneur bagi pramukawan-pramukawati di masa depan.








DAFTAR PUSTAKA

Adiwilaga, Anwas. “Transmigrasi dan Keahlian dalam Pertanian.” dalam Harian Kompas. 8 Oktober 1970
Bygrave. 1996. Entrepreneurship. Jakarta: Bina Rupa Aksara
Covey, Stephen R.. 1997. The 7 Habits of Hingly Effective People. London: Brigham Press
DepDikBud RI. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Drucker, Peter F. 1996. Inovasi dan Kewirausahaan: Praktik dan Dasar-Dasar. Jakarta: Erlangga

Gymnastar, Abdullah. “Tiga Syarat Pribadi Unggul.” dalam Harian Pikiran Rakyat. 8 September 2005

_________________. “Langkah Mengukir Prestasi.” dalam Pikiran Rakyat. 6 Oktober 2002
Gardner, Howard. 1997. Multiple Intelligence. New York: American Publishers
Mulyadi, Seto. “Mempersiapkan Anak Unggul Milenium Ke-III.” disampaikan dalam Seminar “Menjadikan Anak yang Terbaik Menuju Millenium Ke-III” yang diselenggarakan oleh RS. Mtra Keluarga Bekasi pada tanggal 27 November 1999. Makalah tidak dipublikasikan.

Peabody, Bo. 2005. Cara Cerdas Mengembangkan Kewirausahaan. Alih Bahasa: Maufur. Yogyakarta: Inspirasi Buku Utama

Van der Kaa, Ben G. 1994. WIRA USAHA; Pedoman Keterampilan di Madrasah Aliyah. CTA UNESCO/UNDP Project

Santosa, Fabe Ida. “Mengembangkan High Achiever.” dalam ttp://mail.telkom.net/Redicted/www.Bahana-magazine.com/ds/index.php? Diakses pada tanggal 2 Februari 2007

Zahro, Abu. “Pribadi Unggul,” dalam www.yayasan_al_istiqamah.com. Diakses pada tanggal 2 Februari 2007.


[1] Lih. K.H. Abdullah Gymnastiar, “Tiga Syarat Menjadi Unggul,” dalam Pikiran Rakyat, Kamis 8 September 2005
[2] Lihat dan baca selengkapnya di Howard Gardner, Multiple Intelligence, (New York: American Publishers, 1997)
[3] Lih. DepDikBud. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka., 1994 hlm. 2116
[4] Lih. Anwas Adiwilaga, “Transmigrasi dan Keahlian dalam Pertanian”, dalam Harian Kompas, 8 Oktober 1970
[5] Lih. Bo Peabody, Cara Cerdas Mengembangkan Kewirausahaan, (terj. Maufur), (Yogyakarta: Inspirasi Buku Utama, 2005), hlm. 49-50
[6] Lih. Bygrave, Entrepreneurship, (Jakarta: Bina Rupa Aksara, 1996), hlm. 11
[7] Lih. Peter F. Drucker, Inovasi dan Kewirausahaan: Praktik dan Dasar-Dasar, Jakarta: Erlangga, 1996), hlm. 9
[8] Lih. Bygrave, Op. Cit., hlm. 12
[9] Lih. Ben G. Van der Kaa (penyusun), WIRA USAHA; Pedoman Keterampilan di Madrasah Aliyah, (CTA UNESCO/UNDP Project, 1994), hlm. 2
[10] Hal ini didasarkan pada tulisan Fabe Ida Santosa, “Mengembangkan High Achiever,” dalam http://mail.telkom.net/Redicted/www.Bahana-magazine.com/ds/index.php? Diakses pada tanggal 2 Februari 2007
[11] Pernyataan tersebut diperoleh penulis dari Online Diskusi bersama Ustadz Abu Zahro, S. Pd., Pribadi Unggul, dalam www.yayasan_al_istiqamah.com. Diakses pada tanggal 2 Februari 2007
[12] Lih. Stephen R. Covey, The 7 Habits of Hingly Effective People, hlm. 46
[13] Lih. KH. Abdullah Gymnastiar, “Langkah Mengukir Prestasi,” dalam Pikiran Rakyat, 6 Oktober 2002
[14] Lih. Dr. Seto Mulyadi, “Mempersiapkan Anak Unggul Millenium Ke-III”, hlm. 2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar